- www.nrc.nl
Setelah Soeharto mangkat, wadah itu pun bubar jalan. Tapi kini Iwan ingin menghidupkannya lagi. Belum lama ini ia pun membuat laman grup IMAHA di jejaring sosial Facebook dan Twitter. Pendukungnya tak banyak, baru 481 orang. Itu pun banyak anggota yang protes, merasa dimasukkan tanpa persetujuan, tapi tak tahu caranya keluar dari grup itu. Sementara di Twitter, IMAHA mengikuti 820 orang, dan hanya diikuti oleh 169 follower.
Iwan memang unik. Koran Prioritas tempat dulu dia bekerja pernah dibreidel Soeharto gara-gara terlalu keras. Tapi dia merasa ketegasan model Soeharto diperlukan memulihkan keamanan di tanah air. “Dulu peristiwa pemboman bisa dihitung dengan jari. Kini, bagaimana setelah zaman reformasi?” kata bekas redaktur di harian Media Indonesia itu.
Peneliti LIPI Profesor Ikrar Nusa Bhakti mengatakan, nostalgia atas orde baru sebenarnya bukan hal baru. Saat reformasi pada 1999 pun, ungkapan itu sudah mulai muncul. Kini, kerinduan itu tampaknya menjadi semacam pelarian atas keresahan kondisi saat ini. Indikatornya, antara lain, bisa dilihat dari harga bahan pangan, kesehatan, maupun biaya pendidikan.
“Saya sendiri tak memungkiri, di zaman Soeharto saya sangat menikmati biaya kuliah yang murah, cuma Rp 15 ribu per semester,” ujar Ikrar yang dulu belajar di Universitas Indonesia itu. Kini, kata Ikrar, biaya kuliah melambung tinggi, jutaan rupiah setiap semester. Ia juga mengkiritik pelayanan kesehatan yang kian buruk. Puskesmas yang ada saat ini, kata dia, lebih buruk daripada puskesmas pada masa Soeharto.
Namun, Ikrar mengingatkan, semua ‘kenikmatan’ yang ditawarkan oleh orde baru, adalah hasil hutang luar negeri yang musti ditanggung rakyat, juga penyerahan kekayaan sumber daya alam kepada asing, serta mengorbankan kebebasan hak asasi individu. “Kita jangan sampai lupa bahwa stabilitas saat itu diperoleh dengan tangan besi. Di bawah pijakan sepatu lars, di ujung moncong pisau bayonet senapan. Apanya yang enak?” kata Ikrar.
Dua jam menunggu, akhirnya rombongan mendapat kabar: Tommy tak bisa hadir. Listrik masih juga padam. Sekitar pukul empat sore, akhirnya rombongan itu menggeser pertemuan mereka ke Hotel Menteng Jakarta Pusat. Sekitar 25 orang langsung memenuhi meja setengah lingkaran.
