- REUTERS/Tyrone Siu
Proyek Kereta Cepat ini jelas menjadi puncak dari investasi besar-besaran China di Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut, realisasi investasi Tiongkok secara kumulatif Januari-September 2015, sudah mencapai US$406 juta dengan jumlah proyek mencapai 705 proyek. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, realisasi investasi Tiongkok rata-rata tumbuh 66 persen per tahun, dari US$174 juta pada 2010 menjadi lebih dari US$800 juta pada 2014. Selain itu, dari sisi rencana investasi sejak 2010 hingga September 2015 tercatat minat investasi dari Tiongkok menembus angka US$36 miliar.
![]()
Proyek Kereta Cepat menjadi puncak dari investasi besar-besaran China di Indonesia. FOTO: VoxPop.co.id/Muhamad Solihin
Lobi-lobi ala China ini merupakan cerminan salah satu strategi OBOR. Kebijakan adalah upaya China untuk membuka 'jalan keluar' untuk dirinya sendiri dari negara yang terpojok di Pasifik. Terlebih lagi China menyadari bahwa AS telah menciptakan 'cincin strategis pengepungan' di Pasifik Barat. Banyak sekutu AS di Pasifik seperti Jepang, Korea Selatan, Filipina dan Australia juga telah berusaha untuk membentuk persepsi bahwa kebangkitan China adalah ancaman menjulang dan akan mengguncang wilayah tersebut.
Tokyo telah mencoba untuk mengimbangi upaya Beijing untuk meningkatkan dan memperdalam pengaruhnya di Asia Pasifik. Pada bulan Mei 2015, Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan rencananya memperdalam hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara melalui peningkatan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur selama lima tahun. Jepang juga telah memperdalam hubungan maritim dengan Filipina dan Vietnam, yang keduanya menentang ketegasan China tumbuh di sengketa teritorial di Laut Cina Selatan.
Namun, salah satu kendala utama yang dihadapi adalah China adalah kurangnya kepercayaan di wilayah tersebut dalam komitmen negara panda itu dengan kualitas produk-produknya. Tetapi, jika China berhasil dalam proyek rel kecepatan tinggi ini, akan membuka peluang untuk proyek-proyek lainnya di Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara.
Perlambatan
Namun prediksi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) beberapa tahun lalu yang menyebut China akan menjadi negara ekonomi terbesar dunia mengalahkan Amerika Serikat pada 2016 sepertinya belum bisa terwujud. Pertumbuhan ekonomi China yang melambat membuat posisi itu baru bisa diperoleh China setelah tahun 2020.
CNN Money menulis, para ekonom memproyeksikan ekonomi China akan jatuh lebih jauh pada 2016. Sementara ekonomi AS akan tetap sama, artinya dalam keadaan 'tapi tidak lebih besar'. Eropa akan meningkat sederhana, tapi masih bersemangat. Dan India serta negara dengan pasar berkembang lainnya akan menjadi superstar.
"Ekonomi global terjebak dalam pola bertahan," kata Bart van Ark, kepala ekonom di The Conference Board.
The Conference Board memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh sebesar 2,8 persen di 2016, sedikit perbaikan dari 2015 yang diperkirakan akan mencapai 2,5 persen. Sementara itu OECD sedikit lebih optimistis dengan proyeksi 3,3 persen PDB dan 2,9 persen untuk 2015. Sedangkan, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2016 akan mencapai 3,6 persen.
Kuncinya adalah China. Hampir tidak ada yang percaya data resmi pemerintah China pada pertumbuhan ekonomi. Namun konsensus para ekonom menyatakan adalah bahwa China mengalami "soft landing".
"Kabar baiknya adalah ini bukan pendaratan keras," kata van Ark.
OECD memperkirakan ekonomi China akan mengalami perlambatan menjadi 6,5 persen tahun ini, dari 2015 yang diproyeksikan akan mencapai 6,8 persen. Cina membeli banyak bahan baku dari negara lain seperti minyak dan tembaga. Jika skenario yang terburuk mengenai perlambatan ekonomi China sudah mencapai klimaks di 2015. Hal itu akan memungkinkan seluruh dunia untuk rebound dan bergerak maju pada 2016.
