SOROT 402

Ponsel Ilegal Susah Dijegal

Pemusnahan ponsel ilegal di Kantor Pusat Bea dan Cukai, Jakarta.
Sumber :
  • ANTARA/Muhammad Adimaja

Wakil Ketua Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia (AIPTI) Lee Kang Hyun  mengatakan industri sangat geram dengan maraknya penjualan ponsel di ranah online ini. Ia menengarai toko online menjadi jalan bagi masuknya ponsel-ponsel ilegal dan yang berasal dari pasar gelap (black market/BM).

img_title Aturan Blokir Ponsel Ilegal Ditegakkan Tapi Boleh Gonta-ganti SIM Card

Dia bahkan menyebut, dari total smartphone yang beredar di pasar Indonesia, sekitar 30 persen merupakan ponsel yang tidak resmi atau BM. Data GfK menyebut, di 2015 saja ada sekitar 33 juta unit smartphone yang terjual di Indonesia. Ini berarti hampir 10 juta bisa dibilang ilegal.

Country Lead Smartphone Division Lenovo Indonesia, Adrie R Suhadi, juga menyebutkan  kian maraknya peredaran ponsel ilegal. Selain merugikan pemerintah dari segi pajak pemasukan negara, ponsel-ponsel ini juga merugikan konsumen. Tanpa layanan purna jual, jika ada kerusakan dan masalah teknis usai pembelian, kepada siapa konsumen meminta jaminan perbaikan.

img_title Tiada Ampun untuk Ponsel Ilegal Mulai 18 April Besok

"Harga vendor resmi sudah pasti mahal. Selain bayar pajak, mereka juga membebankan harga berlebih karena harus berinvestasi untuk membangun pabrik, service center, kantor, dan marketing di Indonesia. Service center penting untuk menjamin kepuasan pelanggan dan memberikan garansi resmi saat perbaikan,” ujar Adrie.

Senada, Head of Product Marketing IT and Mobile Samsung Electronics Indonesia, Denny Galant, mengatakan, ponsel ilegal akan merugikan konsumen langsung. Untuk itu, dia menyarankan konsumen agar jeli dan pintar dalam memilih. Baca:

img_title Pemerintah Fokus COVID-19, Nasib Aturan Blokir Ponsel Ilegal 18 April?

“Justru yang kami pikir konsumen. Kalau konsumen tidak membeli dengan garansi resmi, kasihan mereka,” ujar dia. 

Namun siapa yang peduli garansi? Saat jari Maul maupun Ajeng menekan transaksi pembelian smartphone di toko online, mereka tentu tahu risiko tidak adanya garansi perbaikan resmi yang akan didapat ketika ponsel mengalami kerusakan. Bahkan mereka mengaku tidak kapok berbelanja gadget di toko online.

"Dulu saya beli yang resmi, garansi juga enggak pernah dipakai. Kalau servis enggak pernah tuh pakai kartu garansi resmi, selalu langsung ke tempat servis mana saja. Enggak bisa diperbaiki, ya beli baru. Banyak hape murah, kok,” kata Maul.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut