- VoxPopnews/Fernando Randy
Ia tetap harus mengedepankan etika. "Ada etika yang harus dijaga," tambah Tarzan, pelawak senior grup Srimulat.
Eko Patrio, pentolan grup lawak Bagito yang telah terkenal sejak 12 tahun lalu, juga mengisyaratkan pentingnya komedi tak serampangan demi mengejar tawa penonton.
Pria yang kini duduk menjadi anggota DPR ini tak menampik bila era kekinian telah banyak lahir para pelawak baru. Bahkan kata Eko, pelawak kini seolah telah menjadi profesi baru bagi setiap orang.
Sebabnya, jika di era lalu profesi pelawak itu tak lebih untuk menyiasati isi perut, dan bermodal pendidikan seadanya, asal bisa melucu. Namun kini para pelawak lebih variatif dan pastinya memiliki pendidikan yang tinggi.
"Dulu maaf-maaf ya, komedian itu kerjaan sampingan. Tapi sekarang jadi kerjaan utama," kata Eko.
Meski begitu, Eko mengingatkan bahwa melawak haruslah tetap mengedepankan pesan moral kepada para penontonnya. Sebab dengan mudahnya kini siapa pun bisa menjadi komedian asal ada kemauan, dan banyaknya ruang di televisi menuntut agar sebuah tontonan tidak mengabaikan publik.
"Sebuah tontonan (komedi) harus juga ada tuntunannya, ada pesan moral dan ilmunya," ujar Eko. "Pelawak harus punya karakter masing-masing," tambah Mpok Atik atau Atik Riwayati, pemain lenong senior yang kini telah beruimur 61 tahun.
Selanjutnya…Mengkritik Lawak
Mengkritik Lawak
Pandji Pragiwaksono, penyiar radio yuang kini populer dengan kepiawaiannya melakukan lawak tunggal, menilai sampai kapan pun Indonesia akan menjadi rumah subur untuk panggung komedi.
"Komedi selalu punya tempat di sini (Indonesia) dan selalu riuh dengan keragaman," ujar pria kelahiran Singapura, 38 tahun silam ini.
Apa yang disampaikan Pandji, memang sejalan dengan suburnya para komedian baru dan ruang yang diberikan televisi untuk menampilkan aksi para pelawak. "Genre komedi tidak akan pernah mati. Cuma ada pasang surut, naik turun," kata Maman Suherman, pengamat komedi.
![]()
Tessy Srimulat (tengah) saat tampil dalam suatu pementasan. (ANTARA FOTO/Teresia May)
Namun demikian, di luar pendapat para komedian itu. Ternyata faktanya publik justru mengkritik tajam panggung komedi saat ini. Penuhnya acara itu di televisi membuat publik jengah.
