- VoxPopnews/Fernando Randy
Lalu ada juga nama Srimulat di tahun 1950-an. Kelompok pelawak yang mengkolaborasikan musik, tari dan komedi dalam satu paket. Mereka berkeliling dari Jawa Timur sampai Jawa Tengah.
Di tahun 1958, muncul grup lawak bernama Trio Los Gilos. Anggotanya Mang Udel, Mang Cepot dan Bing Slamet. Konon kelompok inilah yang akan menjadi figur contoh kelompok lawak generasi berikutnya.
Sejalan itu, kelompok-kelompok lawak pun makin berkembang. Beragam nama seperti Kwartet Jaya, Surya Grup, Pancaran Sinar Petromak, Warkop DKI, Sersan Prambors dan lain sebagainya pun lahir. [Baca juga: Warkop DKI, Berjaya Sepanjang Masa]
Begitu pun dengan sosok perorangan seperti Bing Slamet, Edi Sud, Ateng, Iskak, Benyamin S dan lainnya bersemi di Indonesia. [Lihat infografik: Sejarah Lawak Indonesia]
Sayang memang, sikap represif Orde Baru kala itu ditambah terbatasnya stasiun televisi membuat banyak grup lawak atau pun figur perseorangan timbul tenggelam.
Selanjutnya…Lawakan Dulu dan Kini
Lawakan Dulu dan Kini
Perjalanan dunia komedi di Indonesia mengalir dalam beragam kisah. Dari era ludruk, ketoprak, lenong di era 90-an hingga era milenium di tahun 2000, semua memiliki kekhasan tersendiri.
Tarzan (72 tahun), pentolan Grup Srimulat merasakan adanya perbedaan antara era panggung komedi di masa kejayaan mereka dengan kekinian. Lelaki pemilik nama asli Toto Muryadi ini melihat komedi era kini sebagai konten bisnis. "Yang laku dan tidak laku," ujarnya, Jumat 3 Agustus 2017.
Sebagai pegiat lawak Indonesia sejak 1962, Tarzan tak menampik jika panggung komedi tetap menjadi ajang menguntungkan di televisi di era setelahnya. Apalagi saat ini, komedian lebih mengedepankan cara apa pun agar penonton bisa tertawa.
"Saya kan tidak bisa melawak seperti anak sekarang. Banting-bantingan, hancur-hancuran kursi. Itu kan yang sekarang lagi trend, yang lagi laku," ujar Tarzan.
![]()
Pelawak Tarsan Srimulat (kiri). (ANTARA FOTO/Teresia May)
Menurut Tarzan, saat ini komedi yang ditawarkan ke publik lebih kepada menyesuaikan ke keinginan televisi yang menampung mereka. Sehingga banyak kemudian, pelawak 'zaman dulu' akhirnya mesti mundur pelan-pelan dan memilih tampil di luar hiruk pikuk dunia hiburan.
