SOROT 460

Sinambung Lawak Indonesia

Ludruk Kartolo
Sumber :
  • VoxPopnews/Fernando Randy

Sejumlah tayangan komedi yang kerap menampilkan gaya mencaci, menghina, bermuatan kekerasan di beberapa stasiun televisi pun akhirnya disemprot.

img_title Poppy Sovia Ketagihan Main Film Komedi

"Sekarang persaingan antar komedian semakin ketat untuk merebut perhatian masyarakat untuk dapat berbuat lucu," ujar pengamat komedi Maman Suherman.

Selanjutnya…Etika Melucu

img_title 2 Juta Penonton Warkop DKI Reborn Part 2, Berapa Untungnya?

Etika Melucu

Pesatnya perkembangan panggung komedi di Indonesia suka tak suka memang sejalan dengan suburnya pertelevisian. Banyaknya stasiun televisi menawarkan beragam program yang menyajikan hiburan.

img_title Benarkah Lawak Indonesia Tak Lagi Lucu?

Peluang untuk memanfaatkan ruang kepenatan terhadap isu politik dan lain sebagainya menjadi sumber duit bagi para pelawak. Tahun 2011 misalnya, muncul program lawak tunggal atau Stand Up Comedy di Kompas TV. Konsep lama yang sebelumnya pernah ada di Indonesia tahun 1970-an ini pun dikemas lebih moderen dan memiliki konsep yang terukur.

Perbedaannya, jika dahulu lawak tunggal seperti mencari ajang para pelawak untuk membuat kelompok atau grup lawak baru. Kini, lawakan solo ini lebih kepada menonjolkan figur perseorangannya.

Pandji Pragiwaksono

Pandji Pragiwaksono. (VoxPop.co.id/M Ali Wafa)

Hanya saja memang, lawak tunggal tak bisa luwes seperti melawak pada era dahulu. Mereka yang hendak menjadi komika atau pelaku stand up comedy mesti memiliki materi yang siap, fakta, dan ragam pakem lainnya.

"Komika itu harus nulis. Karena format tiap bit atau materinya memang format menulis," kata Mo Sidik, mentor stand up comedy.

Tak cuma itu, seorang komika dituntut untuk memiliki materi yang tidak mengandung unsur SARA, pornografi dan politis. Sehingga semua materi yang dipaparkannya di hadapan penonton bisa dikonsumsi oleh semua umur.

Sidik tak menampik jika di Indonesia lawak tunggal yang diimpor dari Inggris tersebut sedikit mereduksi pesan sesungguhnya dari stand up comedy sesungguhnya.

Sebab, jika berdasar hikayatnya, maka stand up bukan lah mengartikan posisi berdiri secara harfiah, namun lebih kepada bentuk sikap atas keyakinan yang dimilikinya. "Semacam stand up for your right, gitu lah. Jadi bukan sekadar lu ngelawak sambil berdiri," ujar Sidik.

Atas itu, secara prinsip melawak memang mesti tak sembarangan. Derai tawa yang lahir dari penonton tak sepatutnya muncul cuma karena menampilkan 'kebodohan' atau gesture kocak si pelawak.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut