Dua Perwira TNI Dibunuh Pakai Kunci Mortir di Hari Kesaktian Pancasila

VoxPop Militer: Diorama penggalian Lubang Buaya Yogyakarta.
Sumber :
  • Museum Benteng Vredeburg

VoxPop – Wah, semalam sudah pada nonton film Gerakan PKI 30 September 1965 dong. Sungguh sebuah film yang mengisahkan sejarah kelam perjalanan hidup Bangsa Indonesia.

img_title Menuju Olimpiade 2028, PBTI dan TNI Siap Sukseskan Asian Taekwondo Open di Jakarta

Mungkin generasi muda sekarang banyak yang pada enggak tahu juga, sebenarnya PKI tak cuma membunuh enam jenderal dan perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, di Jakarta saja.

Di hari Kesaktian Pancasila yang jatuh saat ini, Kamis 1 Oktober 2020, sebenarnya pada tahun 1965, PKI juga membunuh dua perwira TNI AD lainnya di Yogyakarta.

img_title Viral Kabar Kendaraan Lapis Baja Berjejer di Monas untuk Hadapi Demonstran, TNI: Jangan Sebarakan Hoaks!

VoxPop Militer akan mengisahkan pembunuhan yang tak kalah sadis lagi. Yang dibunuh PKI itu yakni Brigadir Jenderal (Anumerta) Katamso Dharmokusumo dan Kolonel Infanteri (Anumerta) Sugiono.

Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono dibunuh PKI sehari setelah penculikan dan pembunuhan yang terjadi di Jakarta. Mereka juga gugur dan jenazahnya dipendam di dalam lubang. Malahan, jenazah keduanya ditemukan cukup lama, yakni pada 21 Oktober 1965.

img_title Mensesneg Ungkap Alasan Pemerintah Naikkan Tukin TNI, Singgung Nasib Guru dan Nakes di Wilayah 3T

Jadi kisahnya begini, saat itu keduanya bertugas di Komando Resort Militer (Korem) 072/Pamungkas, Komando Daerah Militer VII/Diponegoro. Dan Brigjen Katamso merupakan Komandan Korem 072/Pamungkas. Sedangkan Kolonel Sugiono sebagai Kepala Staf Korem 072/Pamungkas.

Ketika pecah pemberontakan PKI di Jakarta, Brigjen Katamso baru mengetahuinya pada siang hari, 1 Oktober 1965, saat itu diceritakan beliau sedang berada Magelang. Karena mendapat kabar pembentukan Dewan Revolusi di Jakarta oleh PKI dan merembet ke Yogyakarta, sore harinya Brigjen Katamso pun kembali ke Yogyakarta.

Rupanya setiba di kediamannya, sejumlah oknum TNI yang telah berafiliasi dengan PKI telah menunggunya. Dan memaksa beliau untuk menandatangani surat dukungan Dewan Revolusi. Beliau pun menolak dan langsung memanggil para perwira untuk diadakan rapat. Ternyata yang datang juga membawa senjata dan malah menangkapnya.

Kemudian, pria kelahiran Sragen 5 Februari 1923 itu dibawa pakai mobil ke kompleks Batalyon L di Desa Kentungan, Condongcatu, Depok, Sleman. Saat sampai di lokasi, baru saja keluar mobil tiba-tiba dari belakang dia diserang, kepalanya dipukul pakai kunci mortir, tak tanggung-tanggung kunci mortir ukuran 8.

Braak, beliau pun roboh akibat terjangan besi berat itu, dan gugur sebagai Pahlawan Revolusi RI. Jenazahnya pun dibawa pakai tank dan dikubur di lubang dangkal yang cuma berkedalaman 70 sentimeter.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut