Meredam Dendam Terpendam Jakmania di GBK
- VoxPop.co.id/Radhitya Andriansyah
Mencari Dalang dan Menanti Sanksi
Lebih dari 150 suporter Persija diamankan di Polda Metro Jaya usai kerusuhan itu. Mereka diperiksa satu persatu, hingga akhirnya dibebaskan kembali. Karena tak terbukti melakukan penyerangan.
Menurut Awi, para suporter yang rata-rata berusia belia tersebut tidak memiliki cukup bukti untuk dijerat hukuman. Mereka akan dikembalikan kepada orang tua masing-masing dan akan dilakukan pembinaan.
"Kami panggil orang tuanya. Kami bina karena memang dari barang bukti dan alat bukti memang tidak cukup untuk perbuatan pidananya belum kami temukan," ujarnya.
Namun, informasi terakhir yang didapatkan, ada dua suporter Persija yang masih ditahan di Markas Polda Metro Jaya, keduanya diamankan di dua hari berbeda, yaitu di sekitar wilayah Cikarang, Bekasi.
"Tadi sudah ada dua lagi yang ditangkap, masih dalam pemeriksaan. Saya belum bisa sampaikan identitasnya siapa saja," kata Awi.
Tak dalang kerusuhan yang sedang dicari, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengaku, geram dengan apa yang terjadi di GBK itu.
Meski tak bisa menjatuhkan sanksi kepada Jakmania. Tapi Ahok punya cara lain agar perusuh yang sebagian besar berusia pelajar, jera dan tak mau berbuat onar di lapangan sepak bola lagi.
Ahok akan mencabut fasilitas Kartu Jakarta Pintar (KJP) murid sekolah negeri di Jakarta yang terlibat di GBK. "Kita akan bilang sama mereka (murid pelaku keributan), lain kali kalau kamu ikutan begitu, KJP akan dicabut," ujar Ahok, di Balai Kota DKI, Senin, 27 Juni 2016.
Ahok mengatakan, KJP merupakan bantuan keuangan dari pemerintah yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan murid. Akan tidak tepat jika murid penerima bantuan itu, justru menjadi salah satu pelaku onar, bukannya fokus kepada pendidikan mereka. "(Jika terlibat kerusuhan), kamu itu sebenarnya mau sekolah yang benar atau enggak?" ujar Ahok.
Ahok juga mewacanakan ditambahnya jam belajar di sekolah untuk mencegah keributan yang disebabkan murid kembali terulang. Menurutnya, murid pelaku onar seringkali adalah anak yang kurang mendapat pengarahan dari orang tuanya di rumah. Ditambahnya jam belajar di sekolah akan membuat guru bisa melakukan pembinaan kepada mereka.
