Setelah Ahok Minta Maaf

Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Sumber :
  • VoxPop.co.id/Muhamad Solihin

Mantan Wakil Menteri Agama RI ini menilai kalimat itu dalam keseluruhan konteks jauh dari menghina ayat Alquran. Namun, mengundang interpretasi lain. "Saya mengimbau ada kearifan bagi orang yang keliru mendalami ayat, apalagi mereka yang tidak memahami (Alquran)," ujarnya.

img_title Polri Diminta Tangkap Ferdinand Hutahaean 1x24 Jam

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar

Sementara mengenai makna di balik ayat 51 surat Al Maidah. Nasaruddin menjelaskan, surat itu adalah perintah agar umat memilih pemimpin muslim, sebagai respons dari peristiwa khusus saat itu.

img_title Joseph Suryadi Sembunyikan HP yang Dipakai Menista Agama di Gudang

Umat Islam baru saja menghadapi perang Uhud, dan ada provokasi dai Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh yang dikenal munafik di Madinah. Lalu ayat itu turun untuk menghindari umat Islam bersekutu dengan kaum munafik.

"Ada empat Tafsir tadi malam saya kaji, Tafsir Ibnu Katsir, itu pada umumnya 'auliya' itu yang dimaksud adalah pertemanan," terang Nasaruddin.

img_title Pengakuan Joseph Suryadi yang Penuhi Unsur Penistaan Agama

Kendati demikian, Nasaruddin tak sepenuhnya menyalahkan umat muslim yang memahami 'auliya' sebagai pemimpin. Sebab, kata 'auliya' merupakan bahasa jamak dari ‘waliya’, yang lazim dipahami orang Arab sebagai pemimpin suatu wilayah.

Dia pun mengajak umat Islam bijak dalam merespons ujaran Ahok ini, dan tidak termakan isu maupun ajakan untuk melakukan aksi main hakim sendiri terhadap Ahok, dan menyerahkan kasusnya ke aparat penegak hukum.

"Saya pecaya, MUI sudah memberikan gambaran yang bagus," ungkapnya.

Senada dengan Nasaruddin, Politikus Partai Nasional Demokrat Irma Suryani Chaniago, berharap kasus ini selesai setelah ada permintaan maaf. Dia ingin semua pihak tak lagi menggunakan isu suku, agama, ras, dan antar golongan untuk mendongkrak popularitas ataupun menjatuhkan lawan.

Dia menilai masyarakat tak butuh lagi isu pengalih, yang akan membuat mereka berpaling dari mencari tahu program, visi dan misi para kandidat. Baginya sudah cukup propaganda hitam dipraktikkan pada Pemilu Presiden 2014 lalu. 

Kini, dia mengajak masyarakat melangkah maju dan meninggalkan cara tercela itu. Sebab mengetahui program lebih prioritas daripada membahas isu SARA. "Semua kandidat diharapkan kampanye program dan jangan gunakan black campaign ke depan. Cara-cara yang digunakan pada Pilpres 2014 jangan lakukan lagi," tegas Irma di kompleks gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 10 Oktober 2016.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut