Mengapa Takut dengan Serbuan Pekerja Asing
- ANTARA FOTO/Akbar Tado
Kejadian yang muncul adalah masuknya mereka secara bergelombang dalam jumlah besar dan sembunyi-sembunyi masuk ke Indonesia untuk membangun bisnis sindikat penipuan internasional termasuk juga berbisnis narkoba dan segelintir lain bekerja di industri dan lainnya.
Ini ditunjukkan dari data yang didapat oleh Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM dan kepolisian. Ratusan WNA pun sudah diamankan terkait tindak pidana tersebut dan itu menyentuh seluruh negara atau tidak cuma Tiongkok.
Hanya saja memang, sebagaimana data terhadap 2.968 orang yang dijaring dalam dua pekan pada awal Oktober 2016. Dari jumlah itu, 773 orang diantaranya melanggar peraturan keimigrasian dengan 203 orang diantaranya adalah warga Tiongkok.
"Faktanya, sementara ini memang RRT (Tiongkok) mendominasi jumlah pelanggaran, mulai dari masuk secara ilegal hingga, perbuatan pidana seperti narkotika dan pidana lainnya," kata Direktur Pengawasan dan Penindakan dari Direktorat Jenderal Imigrasi di Kementerian Hukum dan HAM, Yurod Saleh.
Apa yang ditakutkan?
Lantas sesungguhnya apa yang ditakutkan dengan munculnya pekerja asing di Indonesia?
Saat ini, fakta yang tak bisa ditunda lagi adalah masuknya Indonesia dalam era pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kondisi siap tidak siap ini menjadi masalah besar untuk Indonesia sesungguhnya.
Sebab di era itu, Indonesia justru belum memiliki pondasi yang kuat untuk para pekerjanya. "Tenaga kerja di Indonesia kurang terampil dan tidak memiliki sertiifikasi profesi sebagai bukti kelayakan," ujar Center Director EF English First, Mahardika Halim.
Dari data yang dimiliki Mahardika, terungkap bahwa dari 1.000 orang angkatan kerja, tenaga kerja yang terampil di Indonesia hanya 4,3 persen. Sementara itu, di Singapura, bisa mencapai 34,7 persen, Malaysia 32,6 persen, dan Filipina sebanyak 8,3 persen. "Sisanya angkatan kerja Indonesia adalah buruh kasar," kata Mahardika.
Data ini menakutkan. Apalagi jumlah angkatan kerja di Indonesia terus bertambah tiap tahunnya. Bandingkan saja pada tahun 2015. Data Badan Pusat Statistik mencatat ada 122,4 juta jiwa angkatan kerja dan kemudian meningkat lagi pada tahun 2016 menjadi 127,8 juta jiwa dari total penduduk 250 juta orang.
"Dalam 12 bulan di Indonesia bertambah 5.400 tenaga kerja. Jumlah ini sama dengan populasi di negara Singapura," kata Mahardika.
