Mengapa Takut dengan Serbuan Pekerja Asing
- ANTARA FOTO/Akbar Tado
Di Hamparan Perak Deli Serdang Sumatera Utara misalnya, laporan masyarakat mengungkap bahwa para tenaga kerja asing yang kebetulan berasal dari Tiongkok ternyata mendapatkan fasilitas lebih mewah dibanding pekerja lokal.
Selain gaji yang lebih besar, para tenaga kerja asing ini mendapatkan mess dan fasilitas akomodasi lainnya. "Padahal keahlian para pekerja itu biasa saja. Menurut pengamatan masyarakat, kalau cuma bisa bekerja seperti itu, pekerja Indonesia banyak yang bisa dan tidak perlu memakai TKA," kata anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Saleh Partaonan Daulay.
Kejadian terungkap berikutnya di Serang Banten. Tepatnya di perusahaan semen di Pulo Ampel. Sebanyak 70 buruh kasar asal Tiongkok yang diamankan karena tidak memiliki dokumen apapun.
Mengaku diupah Rp500 ribu sehari atau setara Rp15 juta per bulan. Jumlah itu jauh berbanding terbalik dengan pekerja lokal yang hanya diupah Rp2 juta per bulan atau Rp80 ribu per hari.
![]()
FOTO: Ilustrasi/Para pekerja asing di Indonesia
Atas itu, perhatian serius terkait serbuan tenaga kerja asing wajib menjaid prioritas pemerintah. Begitu pun kesiapan para pekerja di Indonesia. Jangan sampai pula, kedepan bertanam cabai pun akhirnya dikuasai oleh para pekerja asing.
"Kita hidup di dunia yang serba terbuka sekarang. Indonesia tidak bisa menutup pintu untuk kedatangan mereka (tenaga kerja asing). Saya melihat pemerintah harus bisa memberi keseimbangan antara kebutuhan warga negaranya (akan pekerjaan) dan kedatangan pekerja asing (untuk bekerja)," kata Gilbert Houngbo, Deputi Direktur Jenderal Lembaga Pekerja PBB bidang Operasional Lapangan dan Kemitraan.
