Merekam Adegan Syur, Normalkah?
- www.pixabay.com/Geralt
Revenge porn, mutlak karena kecerobohan
Di luar segala aktivitas seksual yang melanggar norma agama dan adat istiadat, perilaku merekam kegiatan seksual untuk konsumsi pribadi adalah tindakan yang tidak melanggar hukum. Elizabeth mengungkapkan hal itu murni sebuah kecerobohan.
"Saya merasa terlalu cepat jika kita langsung membuat asumsi. Saya yakin kalau mereka berani mempublikasikan sendiri secara sadar pasti ada alasannya. Bisa karena pengaruh narkoba atau dendam sama pacarnya, kemudian pengin bikin malu," ujarnya.
Lebih lanjut menurutnya permasalahan utama adalah bocornya video tersebut ke tangan publik oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tindakan tersebut dikenal dengan revenge porn.
Dilansir laman New York Times, revenge porn adalah tindakan mengumbar foto-foto erotis (sexually explicit) mantan pasangan di internet dan atau media sosial. Aksi ini tentu saja bisa membuat malu mantan pasangan dan kadang digunakan untuk melakukan pemerasan.
Banyak kasus yang mengakibatkan korban revenge porn akhirnya depresi, tertekan dan bunuh diri.
Pada 2010 Tyler Clement melompat dari George Washington Bridge karena depresi rekaman aktivitas seksnya menjadi viral. Lalu 2014, Alyssa Funke mengakhiri hidupnya dengan pistol di Big Carnelia Lake karena video seksnya tersebar.
September 2012, Amanda Todd mengakhiri hidupnya karena foto payudaranya tersebar di Internet. Lalu kasus bunuh diri yang terbaru pada akhir 2016, perempuan Italia bernama Trivia Cantone yang menjadi korban revenge porn memilih untuk bunuh diri karena merasa tertekan.
Peneliti dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) dan Monash University, dalam penelitian mereka di Australia, mengungkap bahwa angka revenge porn cukup mencengangkan.
Setelah mewawancarai 4.274 responden berusia 16 sampai 49 tahun di Australia, mereka mendapati satu dari lima responden melihat foto erotis mereka di dunia maya tanpa mereka mau. Selain itu data juga menyebutkan bahwa hampir 50 persen korban revenge porn mengalami kondisi depresi.
Meski angka yang ditunjukkan fantastis, namun bagi mereka yang hendak melakukan revenge porn ini sehendaknya memperhatikan hukuman yang mungkin dikenakan, karena di beberapa negara mulai menerapkan undang-undang untuk kasus revenge porn ini.
