Sepenggal Kisah Bertahan Hidup di antara Kemelut Kehidupan

Aku, yang masih berjuang untuk bisa kembali sehat.
Sumber :
  • U-Report

Suatu hari aku konsultasi ke dokter dan mengeluhkan dosis dan resepnya. “Dok, badanku kan sudah besar, antibodiku kuat karena tidak mempengaruhi keadaan tubuhku. Harusnya kan aku jadi kurus karena penyakit ini, paru-paruku bagus, enggak usahlah dokter kasih aku obat antibodi dan vitamin. Aku sudah gemuk, Dok.” ucapku sambil menatap dokter itu dengan penuh harap dan berharap dapat mengurangi jenis obatnya.

img_title Cinta dari Emak Sang Guru Petualang

“Suka nyangkut di tenggorokan Dok, kebanyakan nelannya soalnya kalau satu-satu aku bisa kembung kebanyakan minum air” tambahku. Dokternya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Oke, kalau begitu vitamin sama antibodi di stop yah.” Akhirnya dokter cantik itu bersuara. Aku pun mengangguk senang. Akhirnya dosis dikurangi walaupun hanya dua tablet yang dibuang. “Nanti setelah minum obat ini efeknya tulang sakit, mual, dan sakit kepala,” ucap dokter cantik. Hualahhh!!! Sekarang saja aku sudah amnesia setiap hari, bukan tambah sembuh malah tambah parah.

“Loe tuh kalo lupa ditulis dong, gue udah capek ngomongnya!” kali ini accounting-ku ngomel. “Kan gue udah bilang, gue pelupa, gue lupa nulis juga, keburu ada pesenan barang yang laen,” aku mencoba membela diri kali ini. “Sekarang terserah elu deh, gue gak mau ngasih tahu kesalahan elu lagi, gue udah capek ngomongin loe tiap hari, sekarang tergantung bos loe, mau pake loe lagi apa kagak!” Dia melengos kesal, dan aku cuma bisa angkat bahu.

img_title Curahan Sepatah Puisi

Masa bodoh, dia mau pakai atau tidak aku memang sudah begini keadaanya. Pulang kerja kembali dengan berjalan kaki. Melewati jalanan yang penuh dengan anak-anak kecil bersepeda, tukang dagang, orang-orang hilir mudik, ibu-ibu rumpi pinggir jalan sambil menyuapi anak-anak mereka makan di sore hari. Aku berhenti berjalan, menatap sebuah tempat yang hanya berukuran 3x3 meter, yang ruangannya dipenuhi dengan kaca. Itu adalah tempat pangkas rambut.

Aku membelokan diri ke tempat itu. Si abangnya menatapku heran. Aku hanya tersenyum canggung. “Mau dibotakin bang, kepalaku gatal.” Tanpa pikir lagi aku duduk di kursi tempat potong rambut. Si abangnya tampak bingung dan menanyakan keseriusan aku untuk dibotakin. “Iya bang, mau dibotakin!” aku meyakinkannya lagi sambil membuka kerudungku. Akhirnya aku botak total, licin, dan aneh. Bagaimana tidak aneh, tiba-tiba aku memasuki pangkas rambut dan langsung dibotakin. Gila dan enggak masuk di akal tapi memang kenyataannya seperti ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Citarasa Alam Rimba Kuansing
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut