Sepenggal Kisah Bertahan Hidup di antara Kemelut Kehidupan
- U-Report
Bosan! Bosan dan jenuh. Hidup sendiri seperti orang gila dan tidak punya tujuan hidup. Mau mati sendirikah aku di kontrakan kumuh ini, yang setiap saat bisa kebanjiran dan terbakar kepanasan karena atap sengnya di terpa matahari. Aku down, aku kecewa sama diriku, dan aku frustrasi. Putus asa! Mati segan hidup tak mau. Kembali aku menelepon bos aku untuk mengundurkan diri. Entah sudah berapa lama aku tidak masuk kerja, aku pun lupa hari, lupa waktu, kadang lupa makan. Namun, kembali bosku menolak permintaan resign-ku. “Istirahat saja, kita lihat perkembangannya nanti,” ucapnya. Dia bijaksana sekali, aku sampai terharu dan menangis.
Tapi aku tidak bisa terus seperti ini. Menderita sendiri tanpa keluarga mendampingi, tanpa support mereka. Mereka tidak tahu aku sakit, hanya saja kekhawatiran mereka membuat aku sadar kalau mereka adalah segalanya. Mereka tahu aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja dan aku membutuhkan uluran tangan mereka untuk menguatkan aku. Dengan penuh rasa berat aku mengumpulkan keberanianku untuk mengunjungi orangtuaku, yang tempat tinggalnya sebenarnya hanya berkisar satu jam dari tempatku, tapi mereka tidak tahu kalau keberadaanku sedekat itu.
Memang benar, keluarga adalah segalanya. Mereka tidak marah, hanya menyesalkan keadaanku yang sudah sedemikian sakit parah, tapi tidak memberitahukan mereka. Bukan ingin menyembunyikanya, hanya saja mereka juga mempunyai beban hidup dan aku tidak mau menambah beban mereka. Dan walaupun ujung-ujungnya aku merepotkan mereka juga.
Hidupku memang apa adanya, tapi untuk membuat kepalaku botak entah kenapa menjadi suatu kebiasaan yang unik. Setiap seminggu sekali malah rajin cukuran sendiri, dan orang tuaku hanya bisa geleng-geleng kepala. Aku mulai kembali menjalani pemeriksaan ulang kesehatanku, yang pastinya dengan didampingi keluargaku tercinta. Dan dengan dukungan keluarga semoga aku bisa kembali sehat. Terima kasih mama, bapak, semuanya. Inilah sepenggal kisahku, nyata dan apa adanya. (Cerita ini dikirim oleh Aryand16)
