Nothing is Impossible
- U-Report
“Aku ingin mendobrak pintu ini, jadi kumohon kau menjauh dari pintu ini.” teriak Jack lagi. Kemudian aku menjauh dari pintu tadi untuk berlindung. Hingga aku mendengar dobrakkan yang sangat keras membuat pintu itu terbuka. “Kau tak apa-apa kan?” kata Jack yang sudah berada di depanku sambil melihatku dari atas sampai bawah. Aku menggeleng pelan, “aku tak apa-apa, sungguh,” kataku meyakinkan Jack lalu tersenyum simpul. “Baiklah, lebih baik kita keluar dari sini dan pergi ke kelas.” Ia menarik tanganku membawaku keluar dari toilet ini. Aku dan Jack berjalan berdampingan menuju kelas.
“Mengapa kau ada disini? Bukankah kau seharusnya di kelas?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya. Ia menghentikan langkah kakinya yang membuat aku menghentikan langkah kakiku juga. Aku melihat ke arahnya lalu mengerutkan keningku. “Ada apa?” tanyaku lagi. “Aku menunggumu di kelas Ana, tetapi saat guru masuk pun kau juga belum datang. Aku khawatir pada sahabatku ini. Lalu tiba-tiba saja Dio dan teman-temannya meminta izin keluar kelas, tetapi saat mereka kembali ke kelas mereka datang dengan wajah senang. Aku berpikir mereka mengerjaimu lagi dan benar saja kau dapat masalah lagi dengannya,” jelasnya. Aku mengangguk paham lalu tersenyum simpul ke arahnya. “Terima kasih Jack. kau sudah khawatir padaku dan mau menjadi sahabatku.”
Kami melanjutkan langkah kaki kami menuju ruang kelas. Sesampai di depan pintu kelas, kami mengetuk pintu dan masuk ke dalam kelas. Mr. Harry memperhatikan kami lalu menatap kami penuh selidik, “mengapa kalian baru masuk ke dalam kelas?” tanyanya. Aku menundukkan kepalaku karena kami, aku dan Jack, menjadi pusat perhatian kelas. Jujur saja aku merasa tak nyaman bila semua pasang mata melihat ke arahku. “Aku baru saja menyelamatkan Ana yang terkunci di dalam toilet, Sir,” ujar Jack menjawab pertanyaan dari Mr. Harry.
Mr. Harry mengangguk paham lalu mengizinkan aku dan Jack untuk duduk. Aku berusaha mati-matian untuk memahami apa yang Mr. Harry sampaikan, tetapi tak ada satu pun yang menyangkut di otakku. Oh Tuhan, apa sebegitu bodohnya aku sampai aku saja tak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh guruku.
