Nothing is Impossible
- U-Report
Aku mendengar ketukan dari luar pintu ruang kerjaku, “masuk,” kataku. Lalu masuklah Diana, sekretarisku. “Seseorang yang ingin melamar pekerjaan sudah datang Bu,” ucapnya. Aku menganggukkan kepalaku. “Persilakan ia masuk,” ucapku dan Diana pun keluar dari ruang kerjaku.
Terdengar seseorang mengetuk pintu dan kupersilakan ia masuk. Ia menduduki sofa yang berada di ruang kerjaku. Saat aku melihat ke arahnya aku mengerutkan keningku. Aku seperti mengenalnya, tetapi aku tak yakin kalau itu memang dia. “Siapa namamu?” tanyaku. “Dio Herman,” ucapnya. Aku tersenyum ke arahnya. “Namaku Ana, Anastasia Hill, senang bertemu denganmu lagi, Dio,” ucapku. Dia terlihat kaget karena ucapanku barusan.
“Ana, kumohon padamu maafkan aku atas perbuatanku di masa lalu. Kumohon, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini karena perusahaanku baru saja bangkrut. Kumohon padamu, Ana,” ucap Dio memohon. “Baik Dio, aku sudah memaafkanmu, tetapi kau harus tetap menjalani proses wawancara dulu.”
Walapun ia termasuk temanku, aku tetap mewawancarainya. Aku menyudahi acara wawancaranya dan menurutku menerimanya di perusahaanku bukan ide yang buruk. “Dio, kau kuterima menjadi karyawanku di bagian manager produksi,” ucapku tegas. “Terima kasih, Ana,” ucapnya sambil tersenyum senang.
Aku tersenyum melihat kegembiraan Dio. Menurutku, sukses bukan berarti kau berada di posisi atas dalam suatu pekerjaan, tetapi sukses merupakan di saat kau berguna untuk masyarakat luas yang membutuhkan bantuanmu. (Cerita ini dikirim oleh Dwi Anggraini Hanafiah, Jakarta)
