Nothing is Impossible
- U-Report
Selang beberapa menit kemudian terdengar bel berbunyi menandakan sekarang waktunya pulang. “Okay class is over and see you next week.” Setelah Mr. Harry keluar dari kelas teman-temanku pun berhambur keluar kelas. Aku membereskan alat tulis yang berserakan di atas mejaku dan kumasukkan ke dalam tempat pensil. Aku mendengar langkah kaki yang mendekat, aku mengangkat kepalaku ternyata Jack dengan senyum simpulnya aku pun membalas senyumnya.
“Mari kita pulang,” ajak Jack. Aku menganggukkan kepalaku. “Mari,” kataku. Lalu kami meninggalkan kelas berjalan keluar gerbang dan memasuki bus sekolah yang sudah menunggu kami. Aku duduk di dekat jendela sedangkan Jack duduk di sampingku. Dalam perjalanan pulang Jack selalu saja membicarakan bagaimana caranya membalas dendamku kepada Dio, tetapi aku halau ide itu karena menurutku membalas dendam tidak baik apalagi dengan cara yang negatif. Beruntung Jack mendengarkan kata-kataku.
Aku turun dari bus sekolah dan berjalan masuk menuju gerbang komplekku bersama Jack. Rumah kami bersebelahan karena itu kami bisa bersahabat sejak kecil. Aku melambaikan tanganku pada Jack saat aku sudah berada di depan rumahku. Aku memasuki rumah dan tak terdengar apapun karena di rumah ini aku tinggal sendiri. Orangtuaku selalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka tanpa mempedulikanku.
Pada pagi harinya aku menjalankan aktivitasku seperti biasa. Bangun pagi, mandi, membuat sarapan, dan sekolah. Aku melangkahkan kakiku menuju kelas dan meletakkan tasku pada sandaran bangku. Kelas di pagi hari sangat sepi karena belum banyak siswa yang datang. Aku menunggu bel masuk dengan membaca komik kesukaanku. Tak terasa bel masuk pun berbunyi dan teman-teman sekelasku pun memasuki kelas berbondong-bondong. Bu Ratna, guru geografiku memasuki kelas.
Geografi merupakan pelajaran tersulit untuk kumengerti. Selama pembelajaran berlangsung aku hanya mencoret-coret bukuku tanpa mengerti apa yang disampaikan oleh Bu Ratna. Hingga saat aku melamun, Bu Ratna memanggilku dengan keras. Aku menoleh ke arahnya dengan gugup, “Ya, ada apa bu?” tanyaku takut kalau-kalau Bu Ratna melempar pertanyaan kepadaku. “Apa kau tahu apa saja lapisan bumi?” tanya Bu Ratna menatapku serius.
