Kenanganku bersama Sepeda Tua
- U-Report
Awalnya saya mau beli Playstation 4, tapi karena saya dan kakak saya sering tidak ada di rumah, rasanya percuma kalau beli, tapi tidak ada yang main. Dibanding habis buat hal yang tidak berguna, akhirnya saya memutuskan buat beli sepeda baru saja. Saya bakal cari sepeda dengan tongkrongan yang yahud dan yang penting ada remnya biar enggak diomelin terus.
Ngomongin sedikit soal sepeda Federal saya. Sepeda ini sebenarnya bisa dibilang menjadi saksi bisu buat hari-hari yang saya lalui. Dari banyak cerita, ada cerita yang sampai sekarang masih saya ingat tentang sepeda ini. Sudah lama sih ceritanya.
Waktu masih SMP, salah satu pelajaran yang paling saya takuti adalah seni musik. Hidup saya sudah mulai enggak tenang kalau bakalan ada tes nyanyi secara individu di depan teman sekelas. Bukan apa-apa, saya itu paling tidak bisa nyanyi. Sudah enggak bisa nyanyi, terus harus nyanyi di depan kelas, lagunya harus pakai bahasa Inggris ditambah lagi harus pakai gerakan pula. Tes nyanyi individu + pakai gerakkan + lagu berbahasa Inggris = Harakiri bagi saya.
Saat itu, tes nyanyi bakal diadakan di hari Selasa pagi. Seminggu sebelumnya memang sudah diumumkan bakalan ada tes menyanyi. Dan selama seminggu itu, hidup saya benar-benar tidak tenang. Makan jadi tidak nafsu. Ayam goreng yang biasanya saya doyan, sama sekali tidak saya lirik. Kartun Ninja Hattori atau kartun P-Man yang tiap sore saya tonton, sama sekali enggak saya tonton. Saya stres mikirin tes menyanyi itu!
Saya mau nyanyi lagu apa coba? Nyanyi lagu Bahasa Indonesia saja enggak lulus, sekarang malah disuruh nyanyi lagu Bahasa Inggris. Mama dan kakak saya selama itu langsung memberi kursus kilat buat saya. Mama dan kakak saya suaranya lumayan yahud, tidak sehancur suara saya dan ayah saya. Kakak saya sampai beli buku "Teknik Menyanyi yang Baik dan Benar". Dia bilang, "Suaranya jangan ditahan, biarin mengalir saja De." Mengalir-mengalir. Sudah saya biarin mengalir, tetap saja hasilnya jelek.
