Kenanganku bersama Sepeda Tua
- U-Report
Sial, mana jam pertama saya itu adalah seni musik lagi. Sambil mengutuk dalam hati, saya masuk kelas. Saya ceritakan ke teman sekelas kalau saya baru kecelakaan dan parahnya ternyata tidak ada yang percaya kalau saya habis kecelakaan. Dan, endingnya seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, akhirnya saya dapat giliran tes menyanyi di depan kelas dan mendapat nilai yang "sangat bagus".
Sekarang saya sudah berada di depan toko sepeda. Sedang melihat-lihat sepeda yang mau saya beli. Harganya mahal-mahal, ada sepeda yang seharga kamera bahkan ada sepeda yang harganya lebih mahal dibanding motor saya. Rencana awalnya, saya mau beli sepeda yang harganya tengah-tengah, tidak mahal dan tidak murah, sesuai kondisi keuangan saya.
"Jadi mau yang ini?" kata seorang karyawan sambil menunjuk sepeda pilihan saya. "Hmmm, sebentar ya, Mas. Saya keluar dulu sebentar" kata saya ragu-ragu. Entah mengapa, sekarang saya malah ada perasaan ragu-ragu untuk beli sepeda itu. Saya duduk sebentar di depan toko sambil memandangi sepeda Federal saya. Terlalu banyak cerita dari sepeda ini, bahkan sangat banyak sekali.
Pikiran saya mulai melayang-layang hingga berhenti di banyak titik. Entah kenapa saya malah jadi teringat saat pertama kali bertemu mantan pacar saya. Iya ya, saat itu saya kan lagi naik sepeda ini sedangkan dia sedang menyebrang jalan untuk membantu ibunya berjualan di kantin sekolah.
Saya jadi senyum-senyum sendiri kalau ingat kejadian itu. Ah, sepertinya saya tidak jadi beli sepeda baru deh. Toh, sepeda ini juga masih oke,tinggal dibetulin sedikit remnya. Saya beranjak dari pelataran toko, memasang earphone di telinga, dan mulai mengayuh sepeda. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, waktunya saya untuk pulang. (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)
