Jembatan Strategis atau Target Pengaruh? Barat, BRICS, dan Posisi Prabowo

Presiden AS Donald Trump memuji Presiden RI Prabowo Subianto di KTT Perdamaian Gaza
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

(Artikel Opini ini ditulis oleh Ruben Cornelius Siagian, peneliti dan penulis opini yang fokus pada kebijakan publik, geopolitik, serta isu sosial-politik di Indonesia)

img_title Kadin Kalteng Dukung Prabowo Pangkas BUMN Bermasalah: Bawa Angin Segar Iklim Investasi

VoxPop -Pujian bertubi-tubi dari Donald Trump kepada Presiden Prabowo Subianto di sela KTT  Perdamaian Gaza 2025 di Sharm el-Sheikh bukan sekadar basa-basi diplomatik. Ditambah lagi, pernyataan mengejutkan Benjamin Netanyahu yang menyebut “pidato Prabowo di PBB sebagai suara baru dari dunia Muslim moderat,” memberi sinyal bahwa dinamika hubungan antara Barat dan Indonesia tengah memasuki fase yang jauh lebih strategis.

Kita perlu bertanya bahwa apakah ini sekadar diplomasi pragmatis, atau bagian dari gerakan pengaruh Barat/NATO untuk menempatkan Prabowo dalam orbit kepentingan mereka, bahkan ketika Indonesia kini telah resmi menjadi anggota penuh BRICS (Blok Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan)?

img_title Prabowo Antar Langsung Kepulangan PM Anutin dari Lanud Halim

Panggung Baru Prabowo di Dunia

Data terbuka menunjukkan bahwa sepanjang 2025, Prabowo memainkan peran aktif di dua poros besar geopolitik yaitu Barat dan BRICS.

img_title Prabowo Minta Harga BBM Subsidi Tak Naik, BBM Nonsubsidi Ikuti Minyak Mentah Dunia

Menurut laporan Sekretariat Kabinet RI, kehadiran Prabowo di KTT BRICS 2025 di Kazan menandai langkah resmi Indonesia sebagai anggota penuh blok tersebut, yang tentu ini adalah sebuah pencapaian yang mempertegas orientasi multipolar Indonesia. Namun, hanya beberapa bulan kemudian, ia juga tampil menonjol di KTT Perdamaian Gaza yang dipimpin langsung oleh Donald Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, yang
tentunya dua tokoh ini mewakili spektrum politik dan kepentingan Barat yang khas.

Dalam forum itu, “momen mikrofon menyala” ketika Prabowo meminta pertemuan pribadi dengan Eric Trump menjadi viral, memperlihatkan lapisan hubungan personal yang jarang terekam secara terbuka dalam hubungan antarpemimpin negara.

Sementara BRICS sendiri berkembang menjadi arsitektur ekonomi dan politik tandingan terhadap dominasi Barat. Laporan yang diterbitkan oleh Third World Quarterly menilai bahwa BRICS bukan lagi sekadar forum ekonomi, melainkan “poros ideologis Global South” yang menantang hegemoni institusi Barat seperti G7 dan IMF. 1 ( Cooper, “China, India and the pattern of G20/BRICS engagement: Differentiated ambivalence between ‘rising’power status and solidarity with the Global South)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut