Jembatan Strategis atau Target Pengaruh? Barat, BRICS, dan Posisi Prabowo

Presiden AS Donald Trump memuji Presiden RI Prabowo Subianto di KTT Perdamaian Gaza
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

NATO memperluas jangkauan pengaruhnya di Asia-Pasifik. Dokumen strategis “NATO Engagement in the Indo-Pacific?” menyebut Indonesia sebagai “pemain kunci non-anggota” yang perlu didekati secara halus, terutama lewat kerja sama keamanan non-tradisional dan pelibatan elit militer senior. 2 (Panda dan Ghiasy, “NATO ENGAGEMENT IN THE INDO-PACIFIC?”)

img_title Thailand Tawarkan Jadi Pemasok Beras hingga Daging ke RI, tapi Minta Jatah Pupuk Urea Ditambah

Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?

Hipotesis A: Diplomasi Normal dengan Lapisan Transaksi Politik

img_title Prabowo dan PM Thailand Komitmen Tingkatkan Perdagangan hingga USD 20 Miliar pada 2030

Pujian Trump dan Netanyahu dapat dibaca sebagai sinyal goodwill untuk memperkuat kerja sama pragmatis. Dalam geopolitik realis, kata-kata hangat sering digunakan sebagai alat untuk membuka pintu negosiasi, investasi, atau dukungan politik. Trump dikenal memanfaatkan personalitas pemimpin dunia untuk membangun “debt of gratitude”, yaitu hubungan personal yang kemudian dikapitalisasi untuk kepentingan ekonomi
(seperti kesepakatan resort, pertahanan, atau energi). Kasus “hot mic” dengan Eric Trump
mendukung pola ini.

Hipotesis B: Co-optation

img_title Prabowo Prihatin Banyak Kepala Daerah Terjerat Korupsi

Aktor Barat, terutama Amerika Serikat, menyadari bahwa mengubah arah Indonesia secara langsung hampir mustahil. Namun, menggiring Prabowo agar “ramah Barat” melalui pujian, kerja sama ekonomi, dan legitimasi internasional lebih mungkin dilakukan. Ini bukan perekrutan ke BRICS, melainkan penjinakan pengaruh BRICS dari dalam, dengan Prabowo sebagai jembatan yang menyeimbangkan kepentingan kedua kubu.

Hipotesis C: Operasi “Bridge Diplomacy”

Indonesia kini satu-satunya negara besar Muslim yang berada di BRICS dan memiliki hubungan strategis dengan Amerika, Eropa, dan China sekaligus. Dalam konfigurasi ini, Prabowo tampil sebagai figur yang bisa diterima oleh tiga dunia, yaitu Barat, Islam, dan BRICS. Barat kemungkinan besar melihat ini sebagai peluang emas, yaitu mendekati Prabowo untuk memastikan BRICS tidak berubah menjadi blok anti-Barat murni. Dengan kata lain, bukan menarik Prabowo ke BRICS, tetapi memastikan BRICS tidak menarik Prabowo menjauh.Ekonomi, Keamanan, dan Legitimasi sebagai Motif

Pertama, motif ekonomi. Indonesia dengan pasar 280 juta jiwa dan cadangan nikel terbesar dunia menjadi incaran semua blok ekonomi. Trump, yang terkenal dengan pendekatan dealmaking”, dapat melihat hubungan personal dengan Prabowo sebagai jalan masuk investasi baru termasuk dalam sektor energi dan properti.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut