Jembatan Strategis atau Target Pengaruh? Barat, BRICS, dan Posisi Prabowo

Presiden AS Donald Trump memuji Presiden RI Prabowo Subianto di KTT Perdamaian Gaza
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

Kedua, motif keamanan. Barat membutuhkan mitra di Asia Tenggara untuk menyeimbangkan pengaruh Beijing dan Moskow. Indonesia, yang bertradisi nonblok, bisa menjadi “pivot” dalam strategi Indo-Pasifik. Kajian penelitian yang dilakukan oleh Lee, S., & Schreer, B. (2022) di Laporan Jurnal Ilmiah Asia-Pacific Regional Security Assessment 2022 menyebut Indonesia sebagai target penting untuk kerja sama pelatihan, maritim, dan kontra- terorisme.

img_title Kadin Kalteng Dukung Prabowo Pangkas BUMN Bermasalah: Bawa Angin Segar Iklim Investasi

Ketiga, legitimasi politik. Prabowo mendapatkan pengakuan internasional, bahwa sesuatu yang memperkuat posisi domestiknya. Sementara Barat mendapatkan figur yang bisa memediasi isu global seperti Palestina-Israel, tanpa harus berhadapan langsung dengan sentimen anti-Barat.

Bukan Perekrutan, tapi Penjajakan Pengaruh?

img_title Prabowo Antar Langsung Kepulangan PM Anutin dari Lanud Halim

Melihat data terbuka dan pola pernyataan publik, belum ada bukti kuat bahwa NATO atau Barat menjalankan operasi sistematis untuk “menarik Prabowo ke dalam BRICS”. Justru, yang terlihat adalah usaha menjaga saluran komunikasi dan pengaruh di tengah pergeseran geopolitik multipolar.

Menurut laporan Bloomberg pada 7 Januari 2025, Indonesia sudah menjadi anggota penuh BRICS dengan komitmen menjaga keseimbangan global, bukan perlawanan terhadap Barat. Kita bisa menyebut bahwa Prabowo memainkan strategi nonblok versi abad ke-21, yaitu realistis, oportunis, dan berbasis perdamaian.

img_title Prabowo Minta Harga BBM Subsidi Tak Naik, BBM Nonsubsidi Ikuti Minyak Mentah Dunia

Kemungkinan terbesar bukanlah kooptasi langsung, melainkan “soft influence operation”, yang merupapakan upaya halus membangun hubungan personal, ekonomi, dan diplomatik agar kebijakan Indonesia tetap terbuka terhadap kepentingan Barat. 

Apa yang Harus Diamati Selanjutnya?

Untuk menilai arah pengaruh yang mungkin diarahkan kepada Presiden Prabowo, analis terbuka perlu memantau serangkaian indikator yang saling terkait dalam dinamika diplomasi dan geopolitik. Pertama, frekuensi dan intensitas pertemuan bilateral Prabowo dengan tokoh-tokoh Barat menjadi parameter penting, bahwa interaksi yang lebih sering atau lebih mendalam, di luar forum multilateral formal, bisa mengindikasikan upaya membangun kedekatan strategis. 

Selain itu, pengumuman investasi besar oleh perusahaan yang memiliki afiliasi politik dengan pihak Barat, terutama di sektor-sektor strategis seperti energi, pertahanan, atau infrastruktur, dapat menjadi sinyal nyata adanya insentif ekonomi yang menyertai pendekatan diplomatik.

Selanjutnya, penandatanganan kerja sama militer, pertahanan siber, atau pertukaran intelijen juga menjadi indikator signifikan, karena hal ini tidak hanya memperkuat hubungan bilateral tetapi juga membuka kemungkinan pengaruh dalam bidang keamanan yang sensitif. Paralel dengan itu, sinkronisasi narasi media, baik di Barat maupun di Indonesia, yang menonjolkan Prabowo sebagai figur sentral atau “penentu masa depan BRICS”, harus diamati secara seksama, karena pola liputan yang terkoordinasi bisa mencerminkan strategi soft influence.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut