Filsafat Agustinus dalam Sila Pertama Pancasila
- vstory
Oleh karena itu, apapun yang akan dilaksanakan dan dilakukan oleh rakyat Indonesia, maka akan berpikir terlebih dahulu dan selalu ingat akan Tuhan. Dengan berpegang teguh pada Tuhan, maka semakin dapat meminilisir apa yang akan dapat menimbulkan keributan antar perbedaan agama.
Seringkali jika terjadi permasalahan yang menimpa Indonesia mulai dari faktor alam maupun manusia, maka orang-orang sering kali berucap “tergantung iman” sehingga secara sadar maupun tidak sadar rakyat Indonesia akan selalu menempatkan Tuhan kapan dan di manapun berada.
Adanya suatu permasalahan juga dapat meningkatkan keimanan setiap individu terhadap Tuhan yang dianut setiap agama. hal ini selaras dengan sejarah teologis yang digagas oleh Agustinus tidak lepas dari Teori Plato. Agustinus yang dahulunya bukan seorang taat kepada Tuhan berubah pandangan akibat adanya Teori Plato yang menyatakan bahwa Tuhan itu ada meskipun wujudnya tidak nampak.
Ketika melihat sejenak di masa lalu, maka adanya kepercayaan kepada Tuhan sebenarnya bukan berasal asli dari Indonesia melainkan dari para pedagang asing yang singgah di Indonesia. Sebelum masa itu, kepercayaan rakyat Indonesia yakni pada benda-benda dan roh nenek moyang yang bisa disebut sebagai dinamisme dan animisme.
Semenjak masuknya pedagang dari India, maka lambat laun mengenal agama Hindu dan Buddha, yang kemudian masuk pula agama Islam yang dibawa oleh pedagang Arab, sedangkan untuk agama Kristen Protestan dan Katolik dilakukan dengan cara misi kristenisasi bangsa Portugis di Indonesia. Dan untuk yang Konghucu sebenarnya telah ada sejak lama juga dibawa atas perdagangan bangsa Cina, akan tetapi baru abad ke-21 semakin luas di Indonesia.
Dalam Teori Plato dikenal adanya pemerintahan yang menjunjung kebenaran dan keadilan, oleh karena itu Agustinus beranggapan bahwa keadilan hanya milik Tuhan yang sangat berarti bagi suatu negara atau individu.
Agustinus mulai percaya akan setiap ajaran AlKitab, yang kemudian ia telusuri kebenarannya melalui konsep-konsep filsafat dan teologis sehingga terbentuklah sejarah universal dunia yang akan berakhir pada satu titik klimaks yaitu Tuhan.
