Filsafat Agustinus dalam Sila Pertama Pancasila
- vstory
Awalnya sila pertama Pancasila yang ada dalam Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945 berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Dengan bunyi tersebut maka rakyat Indonesia yang kebanyakan beragama Islam bukan semakin merasa tinggi hati meskipun dapat mengangkat orang Islam, namun justru banyak tokoh yang tidak setuju sebab mereka meyakini bahwa Indonesia adalah negara yang damai dengan saling menghargai antar berbagai agama yang dianut setiap individunya tanpa adanya diskriminasi minoritas agama.
Setelah mendapatkan kritikan dan protes ketidaksetujuan, maka sila pertama Pancasila resmi diubah dengan memperhatikan seluruh golongan baik agama maupun etnis melalui sidang BPUPKI tanggal 18 Agustus 1945 tercantum juga dalam Pembukaan UUD 1945.
Sehingga secara resmi hingga saat ini sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Hal ini menunjukkan hubungan filsafat teologis yang terdapat dalam kandungan Pancasila bahwa Tuhan itu ada dan satu.
Adanya negara Indonesia ini membuktikan kepercayaan atas kebesaran Tuhan dalam menciptakan dunia beserta isinya yang terdiri atas perbedaan yang saling mengikat sesuai dengan perspektif Agustinus.
Sejauh ini agama resmi yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha, serta pada akhir-akhir ini juga dimasukkan agama Konghucu. Agama berperan begitu penting dalam kehidupan masyarakat karena di dalamnya aspirasi-aspirasi manusia yang paling dalam, agama juga sumber dari semua budaya tinggi bahkan candu bagi manusia.
Praktik Teologis dalam Sila Pertama Pancasila
Pada sebuah negara, Tuhan dianggap sebagai pemimpin yang berkuasa atas apa yang telah diciptakan-Nya, sehingga bebas berbuat sesuai apa yang dikehendaki. Dalam filsafat yang dicari yaitu kebijaksanaan yang mana menurut Agustinus terletak pada Tuhan karena mampu memberikan keadilan, kebajikan, dan kedamaian.
Berbanding terbalik dengan negara duniawi yang hanya mengedepankan materalistik sehingga akan berlomba-lomba menjadi yang terbaik menyebabkan pertikaian dan permusuhan.
Sehingga di Indonesia, Ketuhanan sengaja ditempatkan pada sila pertama Pancasila bertujuan untuk menjiwai sila kedua hingga kelima dalam Pancasila, makna menjiwai di sini dianggap sebagai ketika rakyat Indonesia mengamalkan sila kedua maka tidak akan bisa menghilangkan unsur sila pertama sebab diibaratkan jika sila pertama sebagai pegangan utamanya.
