Indonesia, Paru-paru Dunia yang Sedang Sesak Napas

"gambaran hutan yang mengalami deforestasi" (Source: Ulet Ifansasti/Greenpeace)
Sumber :
  • vstory

VoxPop - Anda tentu pernah mendengar kalimat bahwa Indonesia sering disebut sebagai paru-paru dunia. Sebutan tersebut bukanlah sekadar julukan, melainkan mencerminkan kenyataan bahwa negara kita memiliki kekayaan alam yang melimpah. Dulu, bangsa-bangsa Eropa datang berbondong-bondong untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia. Namun, kini bukan bangsa asing yang menjajah kita, melainkan hutan dan alam kita yang terancam oleh tindakan anak bangsa sendiri.
 
Kalimantan, yang dikenal sebagai paru-paru dunia karena memiliki hutan rawa gambut dan hutan tropis yang luas, kini mengalami degradasi akibat keserakahan kita. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, angka deforestasi di Indonesia mencapai 104.032,5 hektar, dengan Kalimantan menyumbang kehilangan hutan sebesar 33.303,8 hektar.
 
Lalu apa aja penyebab dari hilangnya hutan-hutan di indonesia ini?
 
Pertambangan
Baru-baru ini, seorang konglomerat terlibat dalam kasus korupsi yang merugikan negara sebesar 271 triliun rupiah. Jumlah ini bukanlah uang yang mereka kantongi, melainkan mencerminkan besarnya kerugian negara akibat kerusakan lingkungan dan ekologi yang ditimbulkan. Kerusakan ini terjadi tanpa memperhatikan pelestarian sumber daya alam, keseimbangan ekologi, ekonomi berkelanjutan, dan kesejahteraan sosial masyarakat sekitar tambang.
 
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mengungkapkan bahwa hampir 60 persen deforestasi di Indonesia disebabkan oleh aktivitas pertambangan. Menurut studi tersebut, pertambangan berskala besar seperti batu bara, emas, dan bijih besi telah memicu hilangnya hutan tropis dengan membuka wilayah hutan yang sebelumnya tidak dapat diakses untuk keperluan penambangan dan pembangunan jalan.
 
Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa penambangan batu bara memberikan dampak terbesar pada deforestasi antara tahun 2001 hingga 2023, mencakup sekitar 322.000 hektar, diikuti oleh penambangan emas sebesar 149.000 hektar, timah 87.000 hektar, nikel 56.000 hektar, bauksit 16.000 hektar, serta bentuk penambangan lainnya seperti pasir dan batu dengan total 91.000 hektar.
 
Penambangan nikel di Teluk Weda, Halmahera, telah memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan dan komunitas lokal, termasuk suku adat Hongana Manyawa dan komunitas nelayan pesisir. Operasi penambangan ini mencemari sumber air vital dan mengganggu perikanan, sehingga mempengaruhi mata pencaharian mereka. Di Pulau Obi, Indonesia Timur, penambangan nikel menyebabkan perubahan warna air pesisir menjadi merah akibat tingginya tingkat logam berat.
 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Bahlil Dorong Masyarakat Daerah Lebih Aktif Terlibat Pengelolaan Tambang
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VoxPop.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut