Nakba dan Skat Kemanusian Palestina
- vstory
Peristiwa Nakba 1948
Seperti diketahui, penduduk Palestina terdiri dari Muslim Arab, Kristen, dan komunitas Yahudi. Sebelum peristiwa 15 Mei 1948 atau yang sering disebut dengan “Nakba”, mereka menjalin kehidupan secara normal, damai, dan saling menghormati.
“Nakba” berasal dari bahasa arab yang artinya bencana atau malapetaka. Hal itu merujuk pada peristiwa pembunuhan dan pengusiran ribuan rakyat Palestina oleh pendudukan Zionis Israel. Sedikitnya 750.000 warga Palestina diusir dari rumah dan tanah mereka, dan kehilangan 78 persen wilayahnya.
Bagi rakyat Palestina, peristiwa Nakba bukanlah peristiwa sejarah, melainkan perampasan dan kejahatan Zionis atas bangsanya. Peristiwa itu berlangsung sampai saat ini, dan dunia hanya seakan diam menyaksikanya. Pada akhir abad 19, terjadi anti-semitisme terhadap komunitas Yahudi di Eropa sehingga mereka migrasi secara besar-besaran ke Palestina, tanah yang menurut keyakinan mereka adalah tanah yang dijanjikan.
Deklarasi “Balfour” tahun 1917 merupakan dukungan Inggris terhadap Yahudi untuk menduduki wilayah Palestina dengan medirikan rumah nasional. Hal itu memicu migrasi yang lebih besar dan memperkuat Zionis untuk mendirikan Negara di tanah Palestina dengan cara pembunuhan dan pengusiran rakyat Palestina. Cara-cara itu terus dilakukan oleh Zionis sampai hari ini. Meletusnya peristiwa Oktober 2023 sampai sekarang merupakan kilas balik Nakba. Sudah Lebih dari setahun Zionis memporak porandakan Palestina. meskipuan sudah beberapa kali gencatan senjata, seringakali Zionis melanggar dengan dalih pelanggaran kelompok Hamas dalam pembebasan Sandra.
Paling mutakhir, dengan dukungan Amerika dan Negara-negara Eropi Zionis berambisi menguasai Gaza sepenuhnya. Hal ini ditegaskan Menteri Pertahanan Israel Katz dalam sebuah pernyataan. Ia mendesak warga Gaza untuk melenyapkan Hamas dan memulangkan sandera Israel sebagai satu-satunya cara untuk mengakhiri perang. Dalam waktu yang bersamaan, Zionis dengan brutal membunuh setiap orang dalam jangkauanya.
Mempertajam Diplomasi Indonesia
Sejak presiden pertama Ir. Soekarno, Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina. Apalagi Indonesia merupakan Negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di Indonesia, tentu mempunyai empati dan persaudaraan yang mendalam, ditambah Palestina-lah Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Perjuangan Indonesia terhadap Palestina tidak diragukan, karena ini bukan sekedar konflik agama, namun ada skat kemanusiaan di Gaza Palestina. Beberapa lembaga kemanusiaan yang didirikan Indonesia seperti Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), Dompet Dhuafa (DD), Komite Indonesia Solidaritas Palestina (KISPA), Baznas, Aksi Cepat Tanggap, Lazimu, dan masih banyak lembaga-lembaga kemanusiaan lainya, merupakan bentuk komitmen bangsa Indonesia terhadap issu kemansiaan di Palestina.
