70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Rusia, Kian Erat dan Strategis

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi
Sumber :
  • KBRI Moskow

Banyak pihak di Indonesia yang tidak mengetahui bahwa Rusia adalah sebuah negara multi-kultural yang terdiri dari sekitar 120 suku bangsa (mereka menyebut nationalities) dengan berbagai ragam bahasa dan budaya. Walaupun mayoritas beragama Kristen Ortodox, sekitar 14% atau sekitar 24 juta penduduknya adalah penganut agama Islam, mungkin yang terbesar di daratan Eropa. 

img_title Menhub Pede Rusia dan China Bakal Investasi di Proyek Trans-Kalimantan

Beberapa negara bagian seperti Tatarstan, Dagestan, Chechnya dan Bashkortostan mayoritas penduduknya beragama Islam. Sejak runtuhnya Uni Soviet, sekitar 8.000 masjid telah didirikan dan menjadikan Islam sebagai agama yang paling pesat pertumbuhannya di Rusia.

Ada cerita menarik. Pada tahun 988, Prince Vladimir yang juga dikenal sebagai Grand Prince of Kiev and All Russia, sebelum menentukan Kristen Ortodox sebagai agama negara, beliau telah mempertimbangkan Islam dan Judaisme sebagai pembanding. Islam kemudian tidak diterima karena melarang minum alkohol, sementara Judaisme karena dinilai tidak berhasil mendorong kaum Yahudi mengambil tanah kelahirannya. 

img_title Prediksi Prabowo: Perang Rusia-Ukraina Lebih Lama dari Perang Dunia II

Islam ketika itu banyak dianut oleh masyakat di Volga Bulgars (saat ini negara bagian Tatarstan). Islam sendiri sebenarnya sudah masuk Rusia sekitar 10 tahun setelah Nabi wafat. Pada tahun 734 dimasa kekhalifahan Ummayah, telah didirikan sebuah masjid yang disebut Masjid Juma di kota tua Derbent, masuk wilayah Dagestan saat ini. Masjid itu masih berdiri kokoh sampai sekarang walau pernah diterpa gempa bumi yang hebat.

Nah pada 3 Februari 2020 ini genap 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia Rusia yang dimulai  tahun 1950. Dalam kurun waktu 70 tahun hubungan kedua negara mengalami pasang surut. Di era kepresidenan Soekarno, atau Orde Lama, hubungan Jakarta dan Moskow sangat dekat dan bahkan sangat “mesra”. 

img_title Pendiri Telegram Terancam Penjara Seumur Hidup di Rusia, Ini Penyebabnya

Kedua kepala negara sering bertemu dan saling kunjung. Presiden Soekarno sendiri telah berkunjung sebanyak 4 kali ke Uni Soviet yaitu tahun 1956, 1959, 1961, dan 1964. Sementara pemimpin Uni Soviet yaitu Kliment Voroshilov dan Nikita Khruschev mengunjungi Indonesia masing-masing tahun 1957 dan 1960. 

Uni Soviet ketika itu banyak membantu Indonesia, baik di sektor infrastruktur, keuangan, penyiapan kader-kader bangsa melalui bidang pendidikan, maupun teknik militer. Salah satu peran penting Uni Soviet lainnya adalah dukungannya dalam proses kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi tahun 1963.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut