- Jay Bramena/ VoxPop.co.id
Apa yang Anda lakukan terkait kebijakan di bidang pendidikan?
Pendidikan berkarakter. Pendidikan berkarakter adalah pendidikan yang memahami lingkungan. Pendidikan akan melahirkan manusia sehat, kalau anak-anaknya bangun jam empat pagi. Setelah itu, dia sarapan di rumah, pergi ke sekolah berjalan kaki, atau naik sepeda, masuk kelas jam enam. Di sekolahnya dihindarkan pelajaran yang membuat mereka depresi. Sekolahnya harus riang, kemudian mereka makan jam 10, makan makanan yang dimasak oleh ibunya, makanan yang sangat sehat. Pulang ke rumah, mereka anak-anak pedesaannya pergi ke sawah, pergi ke kebun, mengembala. Kemudian, sore mereka pulang ke rumah, pergi ke masjid ketika Magrib. Kemudian, isya sudah di rumah, jam sembilan sudah tidur. Sehat itu.
Apa benar Anda membuat kebijakan, bahwa siswa yang ketahuan merokok tidak akan naik kelas?
Ya. Betul. Itu menjadi kebijakan, ada Perbup dan peraturan sekolahnya. Pertimbangannya pertama, dari sisi aspek kesehatan. Secara klinis sudah dibuktikan mengganggu kesehatan. Kedua, dari sisi ekonomi. Anak sekolah itu belum memiliki penghasilan dan masih meminta orangtua.
Bagaimana dengan bidang kesehatan?
Seluruh rakyat dijamin pengobatannya. Bukan kesehatannya. Kalau kesehatan saya enggak jamin. Kesehatan itu tergantung orang. Dijamin pengobatan oleh pemerintah. Ambulans kita siapkan 200 unit, mengangkut dari rumah, diantarkan ke rumah sakit, diantarkan lagi ke rumah. Ada kesulitan ada sms center. Kelasnya penuh naik ke kelas dua, kelas dua penuh naik ke kelas satu. Semuanya gratis untuk jenis penyakit apapun, dengan atau tanpa BPJS Kesehatan.
Apakah pendidikan juga gratis?
Pendidikan gratis sampai SMA.
Apa benar Anda sering mengantarkan sendiri warga yang sakit?
Ya. Handphone saya 24 jam. Kalau ada kesulitan saya sendiri yang turun, menginstruksikan pada staf saya untuk jalan. Di kantor di samping kursi saya, ada staf yang khusus mengurusi orang sakit. Bukan pegawai dinas kesehatan, dia pegawai saya. Sekretaris bupati, tetapi khusus mengurus orang sakit.
Kabarnya, Anda juga kerap memanggul beras sendiri untuk warga yang membutuhkan?
Ya. Saya memanggul beras bukan untuk mendapatkan pujian. Itu sudah kebiasaan saya dari dulu sampai sekarang. Jadi, bukan hal baru. Kebiasaan kecil saya suka menggiling padi. Ini saya (punggung) kuat sampai tujuh puluh lima kilo waktu saya SMP dan SMA. Jadi, kalau kemarin-kemarin memanggul beras itu kecil. Jadi saya biasa memikul. Jadi kalau memang ada warga yang susah ya, saya antarkan, enggak ada masalah.
