- Jay Bramena/ VoxPop.co.id
Untuk membangun itu harus berangkat dari filosofi. Filosofisnya apa? filosofi dasar kita adalah Pancasila. Berarti, secara subtansi kita bicara tentang identitas Indonesia. Indonesia itu siapa? Indonesia adalah kita. Kita itu siapa? Indonesia adalah saya orang Sunda, adalah saya orang Jawa. Ketika Indonesia adalah saya orang Sunda, maka perspektif berfikir pertama yang saya kembangkan adalah Indonesia adalah Sunda bagi saya.
Maka kebudayaan itu adalah ini tanah kita. Maka seluruh tata nilai tanah kita, itu melahirkan tata nilai kebudayaan. Siapa yang pertama meletakkan itu, orang tua kita, leluhur kita. Maka belajar Indonesia adalah belajar pada leluhur kita. Belajar soal apa cita-cita leluhur membangun bangsa ini. Kalau kita mencintai Indonesia, kita harus mencintai leluhur kita. Dari situ, kita akan menghormati keberagaman setiap wilayah. Karena, setiap wilayah punya identitas, tidak usah diseragamkan atas nama apapun, atas nama negara juga tidak boleh. Karena ketika negara menyeragamkan, pertanyaannya adalah identitas negara itu apa?
Apa saja yang sudah Anda lakukan untuk merawat dan melestarikan budaya lokal?
Pertama, tentunya mengbah mindset berpikir. Mengajak orang untuk mengenal masa lalu yang diasingkan. Jangan salah, ketika saya menggunakan ikat kepala, dikira Bali. Bali itu adalah adiknya Sunda. Bali itu disebut Sunda Kecil. Jadi, ketika saya menggunakan ikat kepala ini, dikiranya mirip Bali. Padahal, beda ikatan depannya. Bali itu ikatan depannya ayam jago, yang saya gunakan ini segitiga ke atas, monotheism. Penyembah Tuhan yang Esa. Karena, orang tidak mengenalnya, kemudian dikira Hindu.
Pertanyaan saya, mengapa orang yang menggunakan dasi dan jas tidak disebut Kristen? Kenapa orang menggunakan jeans, t-shirt, tidak disebut Yahudi? Inilah yang saya bilang, ada problem besar dalam mindset bangsa Indonesia.
Selain budaya, apa faktor penting lain yang menjadi dasar dalam pembangunan di Purwakarta?
Pemahaman itu aja cukup. Dari pemahaman itu akan lahir keluasan berpikir yang akan melahirkan spirit, lahirlah identitas, lahirlah produktifitas ekonomi. Budaya akan melahirkan pakaian, makanan, kebudayaan, estetika. Selesai.
