Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi

Negara Ini Berdasarkan Konstitusi

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi
Sumber :
  • Jay Bramena/ VoxPop.co.id

Anda juga dituding telah menistakan agama?

img_title PNS Purwakarta Diminta Puasa Dua Hari Seminggu

Menistakan agama itu seperti apa? Orang miskin kelaparan enggak dikasih makan, orang kayanya tertawa terbahak-bahak, itu menistakan agama. Anak-anak yatim dibiarkan terlantar, orang-orang sakit dibiarkan tanpa pengobatan, itu menistakan agama.

Anda juga dituding menghidupkan tradisi Sunda Wiwitan?

img_title Bupati Purwakarta Pikul 50 Kg Beras Buat Warga Miskin

Sunda Wiwitan itu mereka pahami sebagai agama. Kalau saya, saya pahami sebagai ajaran Sunda. Wiwitan itu asal, awal. Sunda Wiwitan adalah Sunda yang mengajarkan tentang awal manusia penciptaannya, kecintaan terhadap lingkungan, terhadap sesama, tidak boleh berbuat berlebihan, silih asah, silih asih, silih asuh, filosofis dan nilai ajaran. Apa salahnya? Dari sistem ajaran nilai, yang diajarkan soal ketuhanan, kemanusiaan, lingkungan. Apa yang salah?

Anda juga dikritik karena membangun banyak patung?

img_title Empat Pilar Kebangkitan Nasional Menurut Bupati Purwakarta

Di Purwakarta, patung itu bukan barang baru. Purwakarta punya industri keramik Plered. Membuat celengan dari tanah liat, terkenallah celengan Plered, jadi itu asli Purwakarta. Dibuat celengan yang besar-besar, yang harimau, dan sebagainya. Ada khas Plered namanya Menong. Menong itu adalah identitas Plered dan menjadi khas Purwakarta. Saya pasang di gerbang masuk ke arah Purwakarta lewat Jatiluhur, itu khas. Yang membuatnya adalah orang Plered. Itu identitas. Masalahnya apa? Kalau patung itu dianggap berhala dan tidak boleh, buatlah keputusan yang menyeluruh untuk seluruh orang Indonesia, dalam Kepres, Perpres, Undang-undang. Karena saya bupati, penyelenggara konstitusi.

Bagaimana soal tudingan bahwa Anda menikahi Nyai Roro Kidul?

Ketika orang mengatakan saya menikah, berarti orang itu mempercayai keberadaannya. Saya tidak mempercayai keberadaan dia sebagai makhluk, saya mempercayai dia sebagai nilai. Yaitu nilai, bahwa laut yang terjaga dan terpelihara dan menyatu dengan diri kita sebagai manusia yang menghuninya, maka dia menyatukan diri dengan kecantikannya Ratu Pantai Selatan, kecantikan laut Selatan.

Anda beberapa kali ditolak dan diusir oleh FPI saat di Jakarta. Tanggapan Anda?

Itu hanya dinamika saja. Kekhawatiran, ada ketakutan, dalam pemahamannya ditakutkan saya akan memengaruhi orang untuk mengikuti kebudayaan yang sedang saya galang. Ya ,itu dipersilahkan saja, sah saja. Bagi saya yang penting satu, negeri ini yang mengatur adalah konstitusi. Saya tidak dilarang oleh undang-undang untuk pergi kemana pun, dan negara wajib melindungi saya dimana pun. Negara kita bukan pengikut mahzab, atau keyakinan salah satu golongan. atau kelompok. Sehingga, pemahaman itu bersifat personal, bukan konstitusional. Maka tidak boleh dipaksakan pada orang lain untuk diterima sebagai hukum positif.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut