10 Negara Paling Tidak Bahagia di Dunia, Ada Indonesia?
- Pixabay
6. Botswana
Meski relatif lebih stabil dibanding sejumlah negara tetangganya, Botswana tetap berada di peringkat rendah indeks kebahagiaan global akibat ketimpangan yang semakin melebar. Pertumbuhan ekonomi yang didorong industri berlian tidak dinikmati secara merata. Pengangguran pemuda dan keterbatasan peluang di wilayah pedesaan masih menjadi masalah serius.
7. Republik Demokratik Kongo
Rendahnya tingkat kebahagiaan di Republik Demokratik Kongo berkaitan erat dengan konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik, dan kemiskinan yang meluas. Jutaan warga hidup sebagai pengungsi, sementara banyak wilayah kekurangan infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan air bersih. Tata kelola yang lemah menghambat manfaat ekonomi dari kekayaan sumber daya alam.
8. Yaman
Yaman berada dalam salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia akibat konflik yang berkepanjangan. Banyak penduduk menghadapi kelaparan akut, wabah penyakit berulang, dan runtuhnya infrastruktur vital. Akses layanan kesehatan sangat terbatas, dan di sejumlah wilayah, air bersih serta listrik hampir tidak tersedia.
9. Comoros
Negara kepulauan kecil ini menghadapi keterbatasan peluang ekonomi, ketidakstabilan politik, dan ketergantungan tinggi pada impor. Tingkat pengangguran yang tinggi, infrastruktur yang lemah, serta layanan kesehatan yang belum merata menekan kesejahteraan masyarakat. Isolasi geografis juga meningkatkan biaya hidup.
10. Lesotho
Lesotho melengkapi daftar negara paling tidak bahagia dengan tantangan kemiskinan yang persisten, musim dingin yang keras, dan lapangan kerja yang terbatas. Negara ini memiliki tingkat HIV/AIDS tertinggi di dunia, yang berdampak besar pada kesejahteraan sosial. Banyak keluarga bergantung pada remitansi dari pekerja di Afrika Selatan, sementara akses pendidikan dan kesehatan masih belum konsisten, terutama di wilayah pegunungan terpencil.
Daftar ini menunjukkan bahwa kebahagiaan suatu negara sangat berkaitan dengan stabilitas, keamanan, dan kualitas hidup warganya. Selama konflik, kemiskinan, dan ketimpangan struktural masih mendominasi, kebahagiaan akan tetap menjadi hal yang sulit diraih bagi jutaan orang di berbagai belahan dunia.
