Perang Dunia III Diramalkan Akan Pecah di Tahun 2026, Ini Buktinya?
- Youtube
Kemarahan publik akibat anjloknya nilai mata uang Iran memicu demonstrasi di lebih dari 100 kota dan wilayah di seluruh 31 provinsi Iran, menurut kelompok pembela HAM. Pada Kamis, Iran dilanda pemadaman internet nasional saat aksi protes anti-pemerintah meluas.
Video di media sosial menunjukkan warga Iran meneriakkan slogan-slogan menentang rezim teokratis yang berkuasa, seiring meningkatnya kemarahan akibat krisis ekonomi dan tindakan represif aparat keamanan. LSM Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 45 demonstran tewas, termasuk delapan anak-anak, sejak aksi dimulai. Ratusan orang lainnya terluka dan lebih dari 2.000 orang ditahan.
Rekaman yang diverifikasi CNN memperlihatkan aksi massa di berbagai kota, dengan demonstran memblokade jalan dan membakar benda-benda di ibu kota. Dalam video tersebut, terdengar teriakan dukungan maupun penolakan terhadap pemerintah Iran.
Trump memperingatkan otoritas Iran agar tidak membunuh demonstran damai dan mengatakan Washington akan datang menyelamatkan mereka.
“Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah terjadi sebelumnya, saya rasa mereka akan mendapat serangan keras dari Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan.
Ketegangan Arab Saudi–UEA
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya menjadi sekutu di Yaman, kini berselisih soal kendali wilayah. UEA mendukung Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), kelompok separatis yang menginginkan kemerdekaan wilayah selatan Yaman. Sementara itu, Arab Saudi menginginkan Yaman tetap bersatu dan menilai langkah STC sebagai bentuk campur tangan UEA. Saudi pun dilaporkan telah merebut kembali sebagian besar wilayah yang sempat dikuasai kelompok tersebut.
Berbagai perkembangan global ini, khususnya di Amerika Latin dan Timur Tengah, memicu perdebatan luas tentang kemungkinan dunia sedang bergerak menuju Perang Dunia III.
