Kisah Toleransi dari Pulau Buru: Sekolah Islam Mendidik 3 Siswa Penghayat Animisme
- Ist
Selama beberapa generasi, siswa penghayat animisme di Pulau Buru itu mengenyam pendidikan di SMK Al Hilaal Namlea. Beberapa pendahulu mereka bahkan sudah menamatkan sekolah dan kuliah merantau ke NTB hingga pulau Jawa.
Selama bersekolah, sebagian dari mereka ada memilih pindah keyakinan. Ada yang berpindah ke Hindu Adat, ada yang menganut Islam dan Kristen. Sebagian tetap pada keyakinannya. Sekolah tidak pernah mencampuri pilihan iman mereka. "Kami memberikan kebebasan penuh," tegas Megaria yang juga lulusan LKLB yang digagas Institut Leimana.
Sementara untuk penilaian bidang studi agama siswa nonmuslim, Megaria menekankan pada kehadiran, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan berkolaborasi. Khusus siswa Kristen, koordinasi dilakukan dengan Kementerian Agama untuk penyusunan soal dan penilaian.
Semuanya berjalan baik dan penuh keteduhan, lanjut Megaria. Selama hampir dua dekade kepemimpinannya, ia memastikan tidak pernah terjadi konflik berlatar belakang agama di lingkungan sekolah.
Nilai toleransi juga tercermin dalam pemilihan ketua OSIS. Semua siswa memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri. Bahkan, pasangan ketua dan wakil kerap berasal dari latar belakang agama berbeda. "Kalau ketuanya Islam, wakilnya nonmuslim. Itu sudah biasa di sini," katanya.
Kehidupan sekolah berjalan dalam semangat saling menghargai, bukan sekadar formalitas, melainkan praktik sehari-hari.
Selain membangun toleransi, Megaria juga aktif memperjuangkan masa depan siswa. Banyak yang menerima Program Indonesia Pintar (PIP). Bagi yang belum memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP), sekolah membantu mengusulkan melalui Dinas Pendidikan.
Megaria juga membuka ruang komunikasi bernama "Curhat 008", tempat siswa bisa berbicara dari hati ke hati. Pendekatan personal ini membuat banyak siswa merasa diterima.
"Ada yang sebelumnya merasa dibuli di sekolah lain, lalu pindah ke sini dan lulus dengan baik. Mereka bilang merasa nyaman karena suasana kekeluargaan," ungkapnya.
Bagi Megaria, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan membangun manusia yang saling menghormati.
Di SMK Al Hilaal Namlea, toleransi bukan slogan di dinding sekolah. Ia hidup di ruang kelas, dalam organisasi siswa, dalam perayaan keagamaan, bahkan dalam percakapan sederhana antara guru dan murid. Di sana, perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk bersama. Justru menjadi jembatan untuk saling mengenal, menghargai, dan tumbuh sebagai satu keluarga besar.
