Dave Nilai Diplomasi Energi RI dengan AS Lewat Redefinisi Sudah Tepat, Ini Alasannya

Anggota Komisi I DPR RI, Dave Laksono
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VoxPop – Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono menilai penandatanganan kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS
bukan sekadar transaksi angka, melainkan sebuah reposisi strategis dalam peta 
geopolitik energi dunia. 

img_title Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Kinclong, Produk Global Bersinar Terdorong Ini

"Melalui mandat Presiden, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Direktur Utama Pertamina menegaskan bahwa kerja sama ini adalah upaya ‘keseimbangan baru’ untuk memperkuat neraca perdagangan nasional tanpa mengorbankan kemandirian energi domestik," ujar Dave dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menilai langkah Indonesia untuk membelanjakan USD15 miliar guna membeli BBM, LPG, dan minyak mentah dari AS merupakan strategi pergeseran volume (shifting), bukan penambahan beban impor. 

img_title Terminal LPG Tanjung Sekong Jaga Pasokan 40 Persen Kebutuhan LPG Nasional

"Dengan mengalihkan sumber pasokan dari berbagai negara ke Amerika Serikat, Indonesia mengincar harga yang lebih kompetitif dan kepastian pasokan," kata dia.

Terkait pemenuhan kebutuhan LPG nasional yang mencapai 7 juta ton per tahun, Indonesia memperkuat ketahanan energi dengan meningkatkan porsi impor dari AS hingga 57 persen dari total volume impor. 

img_title Orang AS Ketagihan Tempe, Produk Pangan RI Laris hingga Rp 150 Miliar di New York

Langkah strategis Pertamina ini merupakan solusi konkret untuk menutupi celah (gap) produksi akibat penurunan alami (natural decline) lifting migas domestik. Melalui skema business as usual dengan sistem tender yang 
transparan, kolaborasi ini diperluas melalui MoU dengan Halliburton. 

"Kerja sama teknologi oil field recovery tersebut bertujuan untuk menahan laju penurunan produksi sekaligus mengoptimalkan kembali potensi sumur-sumur minyak di Indonesia," ungkapnya.

Di sektor mineral, kata Dave, Indonesia tetap konsisten menerapkan prinsip ekonomi bebas aktif dengan memperlakukan semua mitra secara setara sesuai regulasi yang berlaku, termasuk dalam tata kelola nikel dan Logam Tanah Jarang (LTJ). 

"Indonesia telah bergeser dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi penyedia nilai tambah melalui hilirisasi. Dengan memfasilitasi investor Amerika Serikat untuk membangun fasilitas pemurnian (smelter) di dalam negeri, Indonesia mempertegas posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global yang transparan dan kompetitif," tegasnya.

Selain itu, keberhasilan model investasi Freeport melalui pembangunan smelter senilai USD 14 miliar kini menjadi cetak biru bagi industri nasional. Melalui rencana perpanjangan konsesi pasca-2035, Indonesia diproyeksikan menambah kepemilikan saham sebesar 
12 persen hingga mencapai total 63 persen. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut