Anggota DPR Minta Program MBG Dievaluasi Secara Sistemik untuk Atasi Masalah Keracunan Berulang

Anggota Komisi IX DPR, Pulung Agustanto
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VoxPop – Anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto menyoroti insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa 117 siswa SMPN 1 Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kejadian yang dipicu oleh konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis, 23 Juli 2026 lalu telah menimbulkan reaksi berantai yang memprihatinkan. 

img_title Bos BGN Sebut Program MBG Jadi Prioritas di Daerah dengan Angka Stunting Tinggi

Para siswa dilaporkan mengalami gejala mual, sakit perut hebat, hingga muntah-muntah. Hal itu yang tidak hanya mengancam kesehatan fisik tetapi juga mengganggu konsentrasi dan proses belajar mengajar di sekolah.

"Sampai saat ini masih ada enam siswa yang harus menjalani perawatan di rumah sakit, " ujar Pulung dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 28 Juli 2026.

img_title BGN Temukan 414 SPPG Anomali: Uang Masuk ke Rekening, Tapi Dapur Belum Beroperasi

Petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menata menu Makan Bergizi Gratis (MBG)

Photo :
  • ANTARA FOTO/Maulana Surya

Pulung sangat menyayangkan ironi yang terjadi di tengah upaya besar pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak bangsa. Program MBG, yang seharusnya menjadi simbol kepedulian negara terhadap generasi penerus, justru menjadi celah bagi ancaman kesehatan. 

img_title Kadin Puji Program MBG Prabowo, Sebut Banyak Anak Pelosok Terbantu

Menurutnya, insiden seperti ini bukan pertama kalinya terjadi dan mulai menunjukkan pola yang mengkhawatirkan.

“Ini sungguh memalukan dan membuat miris. Program yang diinisiasi untuk mencerdaskan dan menyehatkan anak-anak bangsa justru berakhir dengan mengorbankan kesehatan siswa,” ujar politisi PDIP ini.

Insiden di Kediri, lanjut Pulung, adalah alarm yang tidak bisa lagi diabaikan. Ia menyoroti lemahnya pengawasan dan minimnya standar operasional prosedur yang diterapkan oleh penyedia jasa katering di tingkat daerah. 

Proses distribusi makanan yang tidak terjamin kebersihannya, rantai pasok bahan baku yang tidak terpantau, serta kurangnya disiplin dalam penerapan higiene sanitasi menjadi variabel kritis yang harus segera dibenahi.

Dengan berbagai kejadian di berbagai daerah sejak awal program ini berjalan, menurut Pulung, patut diduga ada problem sistemik yang perlu ditangani. Tanpa penanganan menyeluruh kejadian serupa akan terulang lagi.

Sebagai bentuk tanggung jawab dan pencegahan dini, Pulung mendesak agar operasional penyedia jasa katering yang melayani sekolah tersebut dihentikan sementara selama proses investigasi berlangsung. 

Langkah ini penting agar tidak ada korban tambahan dan pihak penyedia dapat menjalani audit kebersihan secara menyeluruh.

“Kejadian seperti ini sudah terjadi di banyak titik, di berbagai daerah di Indonesia. Pertanyaannya, apakah Badan Gizi Nasional (BGN) dan para pengelola dapur di daerah tidak mau belajar dari pengalaman pahit ini? Ataukah kita terus terjebak dalam siklus yang sama terjadi kasus, heboh, lalu lupa, dan terjadi lagi?,” tandasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut