Fadli Zon Soal Pidato 'Londo Ireng' Prabowo: Cuma Bercanda, Kalau Bukan Pengkhianat Tak Perlu Tersinggung
- ANTARA
Fadli menilai gaya pidato Prabowo tidak mengalami banyak perubahan sejak lama. Menurutnya, Presiden tetap konsisten menyampaikan gagasan secara konseptual dalam setiap kesempatan.
Ia juga mengatakan penggunaan metafora maupun celetukan dalam pidato Prabowo merupakan bagian dari cara berkomunikasi agar suasana lebih akrab sekaligus memudahkan masyarakat memahami pesan yang ingin disampaikan.
Selain itu, Fadli menyebut Prabowo kerap memanfaatkan pidatonya untuk menjelaskan berbagai kebijakan pemerintah kepada publik agar dipahami sebagai bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan nasional.
Pernyataan Prabowo soal 'Londo Ireng'
Istilah "londo ireng" sebelumnya disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC Senayan, Jakarta, pada Kamis 23 Juli 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan istilah tersebut untuk menyebut orang Indonesia yang dinilainya lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.
Prabowo menegaskan pemerintah tidak anti terhadap kritik karena Indonesia merupakan negara demokrasi. Namun, ia menilai ada pihak tertentu yang sengaja bekerja demi kepentingan asing sehingga melemahkan bangsanya sendiri.
"Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada," kata Prabowo.
Prabowo juga mempertanyakan sumber pendanaan pihak-pihak yang menurutnya terus menyampaikan narasi negatif, termasuk ketika kondisi ekonomi sedang menghadapi tantangan dalam penyediaan lapangan kerja.
"Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan," katanya.
