- VoxPopnews/ Aceng Mukaram
“Bahwa (pengawasan) masih ada bolong-bolongnya, iya. Tapi, percayalah bahwa pemerintah masih sangat bisa mengendalikan arus dari mereka-mereka yang ingin bekerja secara ilegal,” katanya.
Hanif pun menilai, kegusaran masyarakat ini dipicu pihak tertentu yang memanfaatkan isu kerja sama Indonesia dengan asing, terutama China. Setidaknya sudah tiga kali sejak Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin negeri, sentimen terhadap pekerja asing ini mencuat dan yang dimunculkan selalu pekerja China.
Isu itu semakin gencar ketika aparat pemerintah menangkap pekerja ilegal. Seperti ketika penangkapan terhadap warga China saat mengerjakan proyek di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada April 2016.
“Muncul tiga kali dari Februari 2015, April 2016, kemudian Desember 2016,” tutur Hanif.
Imbas Investasi
Polemik tenaga kerja asing juga mendapat tanggapan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Trikasih Lembong. Dia mengungkapkan, Indonesia membutuhkan investasi asing untuk membangun negeri. Meningkatnya investasi pasti selaras dengan datangnya pekerja asing.
Kondisi itu menjadi keniscayaan sebagai konsekuensi, karena tenaga kerja asing merupakan komponen kritis dari investasi, sehingga wajar jika negara investor mengirim orang mereka untuk menjamin keberhasilan investasi tersebut.
Kepala BKPM, Thomas Lembong
Data BKPM menunjukkan, investasi China saat ini berada di urutan ketiga, dari sebelumnya urutan kedelapan di Indonesia.
“Kami meminta investor mempertaruhkan triliunan rupiah modal mereka di negara kita,” ujar Lembong saat ditemui di Pacific Place, Jakarta, Kamis, 5 Januari 2017.
Mantan menteri Perdagangan ini menjelaskan, “Masing-masing tenaga kerja asing itu menghasilkan 4-9 tenaga kerja lokal. Jadi satu tenaga kerja asing yang masuk menciptakan 4-9 lapangan kerja baru untuk tenaga kerja Indonesia," tuturnya.
Data BKPM menunjukkan lapangan kerja yang diciptakan dari investasi jauh lebih banyak untuk tenaga kerja lokal dibandingkan asing.
Tenaga kerja yang dihadirkan dari luar negeri pun hanya akan bekerja pada fase awal sebuah proyek. Mereka datang sebagai tenaga ahli untuk memperkenalkan teknologi atau alat produksi yang dibawa dari China, agar bisa diajarkan pada pekerja lokal.
Semakin cepat mereka mentransfer pengetahuan itu, maka investor akan memperoleh keuntungan lebih besar.
