Indonesia Didorong Impor Kedelai Lebih Banyak dari AS

Ilustrasi kacang kedelai.
Sumber :
  • Pixabay/Zhekalee

Jakarta, VoxPop – Amerika Serikat (AS) mendorong Indonesia untuk impor lebih banyak produk kedelai.

img_title Ekonom Sebut Serangan AS ke Iran Masih Jadi Sentimen Bagi Harga Minyak & Pergerakan Rupiah

Hal itu terungkap dari acara 'Southeast Asia U.S. Agricultural Cooperators Conference' yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lebih dari 400 pemimpin dan pemangku kepentingan di bidang pertanian dari lebih dari 20 negara berkumpul dalam konferensi yang diselenggarakan oleh U.S. Soybean Export Council (USSEC) dan U.S. Grains & BioProducts Council dengan tema 'Enabling Trade Today, Unlocking Tomorrow' tersebut.

img_title AS Kembali Serang Wilayah Iran dekat Perbatasan Irak

Acara ini diklaim untuk mempererat perdagangan global, membangun rantai pasok yang tangguh, serta memastikan ketahanan pangan jangka panjang.

Di konferensi tersebut para peserta menjajaki peluang untuk meningkatkan perdagangan kedelai AS, jagung, dan produk turunannya guna mendukung sektor pangan dan pakan.

img_title Lindungi Industri Dalam Negeri, Pemerintah Diminta Wajibkan Importir Garam Serap Produksi Lokal

Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sudah menjadi pasar penting sekaligus berkembang pesat bagi ekspor pertanian AS.

Pada Tahun Pemasaran 2023/2024, kawasan ini mengimpor sekitar 9,08 juta metrik ton (MMT) kedelai utuh dan 20,89 MMT bungkil kedelai, cerminan tingginya permintaan dari sektor pangan atau pun pakan.

Di antara negara di kawasan, Indonesia menonjol sebagai importir terbesar kedelai AS untuk kebutuhan pangan, menunjukkan posisi strategis negara ini bagi produsen negeri Paman Sam.

Permintaan konsumen yang kuat serta budaya kuliner yang lekat dengan pangan berbahan kedelai seperti tempe dan tahu menjadi pendorong utama impor kedelai.

Sementara itu, kebutuhan protein yang terus meningkat membuka peluang baru bagi bungkil kedelai AS untuk sektor pakan.

“Asia Tenggara (dan Indonesia khususnya) terus menjadi kawasan penting bagi pertumbuhan kedelai kami. Hal itu didorong dengan meningkatnya permintaan, kelas menengah yang berkembang, dan konsumsi protein yang kian besar,” ujar Timothy Loh, USSEC Regional Director, Southeast Asia and Oceania, melalui keterangan resminya, Selasa, 30 September 2025.

Lebih lanjut ia mengaku, melalui kemitraan jangka panjang dan komitmen bersama terhadap inovasi dan keberlanjutan, serta menghadirkan nilai bagi negara-negara di ASEAN, sekaligus 'membantu membangun masa depan yang lebih aman dan tangguh bersama'.

Konferensi ini menyoroti bagaimana kolaborasi jangka panjang antara produsen kedelai AS dan mitra di Indonesia dan Asia Tenggara memastikan keandalan pasokan, memperkuat akses pasar, serta membuka nilai tambah bersama.

Ilustrasi tempe

Orang AS Ketagihan Tempe, Produk Pangan RI Laris hingga Rp 150 Miliar di New York

Produk pangan olahan Indonesia termasuk tempe meraup potensi transaksi US$8,3 juta atau sekitar Rp 150,7 miliar, dalam pameran Summer Fancy Food Show (SFFS) di New York.

img_title
VoxPop.co.id
31 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut