Investor Waspada! 2026 Diprediksi Jadi Titik Balik Kekuasaan Dolar AS

Mata uang Dolar AS
Sumber :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Jakarta, VoxPop – Dominasi Dolar Amerika Serikat (AS) perlahan mulai tergerus. Selama puluhan tahun, greenback menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional dan cadangan devisa global. 

img_title Rupiah Menguat ke Rp 18.008, Pasar Cermati Indikator Ekonomi dari Inflasi hingga Neraca Dagang

Namun, tren baru menunjukkan bahwa negara-negara kini mulai mencari alternatif, baik dalam perdagangan maupun sistem pembayaran lintas batas, untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS.

Fenomena ini bukan sekadar angka statistik, melainkan gambaran nyata dari pergeseran kekuatan ekonomi dunia. Negara-negara berkembang semakin sering melakukan perdagangan satu sama lain tanpa menggunakan Dolar AS. 

img_title Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.300 per Dolar AS Pekan Depan, Pengamat Ungkap Penyebabnya

Contohnya, perdagangan India dan Rusia kini diselesaikan menggunakan Rupee, Dirham, dan Yuan. Bahkan lebih dari separuh perdagangan China kini melalui CIPS, sistem pembayaran lintas batas milik China, menggantikan SWIFT yang lama dikuasai bank-bank Barat. 

Beberapa kemitraan lain seperti Brazil-Argentina, UAE-India, dan Indonesia-Malaysia juga sedang menguji penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal masing-masing. Dolar AS yang dulunya menjadi tulang punggung cadangan devisa dunia pun mulai kehilangan posisinya. 

img_title Rupiah Menguat ke Rp 18.055 Meski Ekonom Proyeksi Ekonomi RI di Kuartal II-2026 Anjlok

Melansir dari Wired, Senin, 29 Desember 2025, persentase cadangan global yang disimpan dalam Dolar turun dari 72 persen pada 1999 menjadi 58 persen hari ini. Drastisnya pengeluaran fiskal Amerika, defisit diproyeksikan mencapai US$1,9 triliun atau setara Rp31.730 triliun pada 2025, ditambah defisit akun berjalan yang mencapai 6 persen dari PDB. 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Photo :
  • VoxPop.co.id/M Ali Wafa

Ditambah lagi praktik pencetakan uang dalam jumlah besar untuk membiayai pengeluaran pemerintah, membuat persepsi keamanan Dolar sebagai mata uang cadangan dunia mulai goyah.

Bahkan pasar obligasi AS, yang dulu dianggap paling likuid dan aman, kini menghadapi tantangan serius. Saat ini, lebih dari US$27 triliun atau sekitar Rp450.900 triliun obligasi Treasury beredar di sistem finansial global. 

Dengan jumlah sebesar itu, jika terjadi penjualan besar-besaran, tidak ada cukup balance sheet di lembaga keuangan utama untuk menampung penjualan, kecuali jika The Fed campur tangan. Krisis pasar Treasury pada Maret 2020 menjadi bukti bahwa sistem yang tampak stabil sekalipun bisa mengalami kegagalan tanpa intervensi bank sentral.

Namun ancaman terbesar bagi Dolar di 2026 bukan datang dari satu mata uang pesaing, melainkan dari sistem pembayaran alternatif yang dibangun untuk mem-bypass jalur Dolar. Proyek seperti mBridge, yang melibatkan bank sentral China, Hong Kong, Thailand, dan UAE bekerja sama dengan Bank for International Settlements, memungkinkan pembayaran instan antarnegara menggunakan versi digital mata uang nasional masing-masing. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut