Jangan Panik! Dokter Ungkap Cara Aman Mudik bagi Penderita Aritmia
- Freepik
Jakarta, VoxPop – Mudik Lebaran menjadi tradisi tahunan yang dinantikan banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun perjalanan jauh yang identik dengan kemacetan, kelelahan, hingga perubahan pola aktivitas bisa menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian orang, terutama bagi pasien dengan gangguan irama jantung atau aritmia.
Aritmia merupakan kondisi ketika irama detak jantung menjadi tidak teratur, bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak stabil. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti jantung berdebar, pusing, hingga sesak napas. Meski begitu, bukan berarti penderita aritmia tidak boleh melakukan perjalanan jauh, termasuk mudik Lebaran. Scroll lebih lanjut yuk!
Menurut Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia Heartology Cardiovascular Hospital, pasien aritmia tetap dapat bepergian selama kondisi kesehatannya dalam keadaan stabil.
“Sebagian besar pasien aritmia tetap dapat melakukan perjalanan dengan aman. Namun faktor seperti kelelahan, dehidrasi, stres perjalanan, atau terlambat minum obat dapat memicu keluhan seperti jantung berdebar atau pusing,” jelas dr. Dicky.
Ia menambahkan bahwa sejumlah penelitian serta panduan klinis internasional menunjukkan perjalanan jarak jauh, termasuk penerbangan, pada umumnya aman bagi pasien aritmia yang kondisi klinisnya stabil. Kendati demikian, pasien tetap perlu memperhatikan beberapa hal penting sebelum dan selama perjalanan.
Tips Aman Mudik bagi Pasien Gangguan Irama Jantung
Agar perjalanan tetap nyaman dan aman, pasien aritmia disarankan melakukan persiapan yang matang. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Pastikan kondisi jantung stabil sebelum berangkat
Sebelum melakukan perjalanan jauh, pasien aritmia dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Pemeriksaan ini bertujuan memastikan kondisi jantung dalam keadaan stabil serta memastikan terapi yang diberikan sudah optimal.
2. Jangan melewatkan obat
Obat yang diresepkan dokter harus tetap dikonsumsi secara teratur. Pasien disarankan membawa persediaan obat yang cukup selama perjalanan, bahkan menyiapkan cadangan jika terjadi keterlambatan.
3. Hindari kelelahan dan kurang tidur
Perjalanan jauh sering kali membuat seseorang kurang beristirahat. Padahal, kurang tidur dan kelelahan fisik dapat menjadi pemicu munculnya gangguan irama jantung pada sebagian pasien.
