Sesak saat Naik Tangga Bisa Jadi Pertanda Masalah Jantung, Begini Kata Dokter

Ilustrasi jantung
Sumber :
  • Freepik

VoxPop – Sesak napas ketika menaiki tangga kerap dianggap sebagai hal biasa, terutama setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat. Keluhan tersebut juga sering dikaitkan dengan kurang olahraga atau faktor usia. Namun, jika sesak muncul berulang, disertai mudah lelah, jantung berdebar, nyeri dada, hingga pembengkakan pada kaki, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

img_title Cukup 1 Sendok Sebelum Tidur, Minyak ini Justru Menjadi Pembersih Kolesterol dan Jaga Jantung

Dokter mengingatkan bahwa sejumlah keluhan tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan pada katup jantung. Masalah ini bisa berkembang secara perlahan sehingga seseorang terkadang tidak menyadari bahwa fungsi jantungnya mulai mengalami penurunan.

Mengenal Gangguan Katup Jantung

img_title Breaking News! Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN

Jantung manusia memiliki empat katup utama, yakni katup mitral, aorta, trikuspid, dan pulmonal. Keempatnya berfungsi menjaga agar darah bergerak melalui ruang-ruang jantung dan pembuluh darah dalam arah yang semestinya.

Gangguan terjadi ketika katup mengalami penyempitan atau tidak dapat menutup secara sempurna. Pada kondisi tersebut, aliran darah menjadi tidak optimal dan jantung harus bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

img_title Bukan Cuma Lari, Ini 7 Olahraga Terbaik untuk Menjaga Kesehatan Jantung Pria

Secara umum, gangguan katup jantung terbagi menjadi beberapa jenis. Stenosis terjadi ketika katup mengalami penyempitan sehingga tidak dapat membuka dengan maksimal. Sementara itu, regurgitasi merupakan kondisi ketika katup bocor karena tidak mampu menutup rapat.

Selain kedua kondisi tersebut, terdapat pula kelainan katup bawaan yang sudah terjadi sejak seseorang dilahirkan.
Jika berlangsung dalam jangka panjang tanpa penanganan yang sesuai, gangguan katup dapat menyebabkan perubahan struktur jantung. Ruang jantung dapat membesar, irama jantung terganggu, aliran darah menjadi tidak lancar, bahkan meningkatkan kemungkinan terbentuknya bekuan darah. Dalam kondisi yang lebih lanjut, kemampuan jantung untuk memompa darah juga dapat menurun.

“Penyakit katup jantung terjadi ketika katup menyempit atau tidak menutup sempurna, sehingga aliran darah terganggu dan jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, bisa terjadi pembesaran jantung, gangguan irama, hingga penurunan fungsi pompa. Karena gejalanya muncul perlahan, pemeriksaan penting untuk menilai kerusakan dan menentukan penanganan yang tepat untuk pasien,” jelas dr. Vera Citra Setiawan Hoei, BMedSci., Sp.B.T.K.V., Subsp.JD(K), Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular.

Penyebab Gangguan Katup Jantung

Masalah pada katup jantung dapat dipicu berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah demam rematik yang muncul setelah infeksi tenggorokan, proses penuaan yang menyebabkan pengapuran katup, serta endokarditis atau infeksi pada lapisan dan katup jantung.

Kelainan yang sudah ada sejak lahir juga dapat menjadi penyebab. Selain itu, hipertensi, riwayat serangan jantung, gagal jantung, maupun penyakit jantung koroner dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan katup.
Kondisi ini tidak hanya terjadi pada kelompok lanjut usia. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia dapat mengalaminya, bergantung pada faktor penyebab dan kondisi kesehatan masing-masing.

Pada perempuan hamil, gangguan katup yang sebelumnya tidak menimbulkan keluhan juga dapat mulai terasa. Hal tersebut berkaitan dengan meningkatnya beban kerja jantung selama kehamilan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Sesak napas merupakan salah satu keluhan yang patut diperhatikan, terutama apabila muncul saat melakukan aktivitas seperti menaiki tangga atau berjalan. Pada sebagian orang, sesak juga dapat terasa ketika berbaring.
Selain sesak, beberapa tanda lain yang dapat muncul antara lain:

  • Mudah lelah dan kemampuan beraktivitas menurun.
  • Jantung terasa berdebar atau berdetak tidak teratur.
  • Nyeri maupun sensasi tertekan di bagian dada.
  • Pusing, hampir kehilangan kesadaran, atau pingsan.
  • Pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki.
  • Pembengkakan pada bagian perut.

Penting untuk dipahami bahwa intensitas gejala tidak selalu mencerminkan seberapa parah kerusakan katup. Gangguan yang tergolong berat pada sebagian pasien justru dapat menimbulkan keluhan ringan karena tubuh mampu beradaptasi secara bertahap. Karena itu, seseorang sebaiknya tidak menunggu gejala menjadi berat sebelum memeriksakan kondisi jantung.

Ekokardiografi Jadi Pemeriksaan Utama

Untuk mengetahui kondisi katup jantung, dokter dapat melakukan ekokardiografi atau pemeriksaan USG jantung. Pemeriksaan tersebut memungkinkan dokter mengevaluasi bentuk serta pergerakan katup, termasuk melihat apakah terdapat penyempitan atau kebocoran.

Ekokardiografi juga dapat memberikan gambaran mengenai ukuran ruang jantung, keberadaan bekuan darah di dalam ruang jantung, serta kemampuan jantung dalam memompa darah.

Berdasarkan kondisi pasien, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan seperti elektrokardiogram (EKG), rontgen dada, tes latih jantung, CT scan, MRI jantung, hingga kateterisasi jantung.

Tidak Semua Gangguan Katup Harus Dioperasi

Diagnosis penyakit katup jantung tidak otomatis berarti pasien harus menjalani operasi. Pada gangguan yang masih ringan, dokter dapat memilih pemantauan secara berkala melalui konsultasi dan pemeriksaan ekokardiografi.

Obat-obatan juga dapat digunakan sesuai kebutuhan pasien, misalnya untuk membantu mengendalikan penumpukan cairan, tekanan darah, gangguan irama jantung, maupun mengurangi risiko terbentuknya bekuan darah pada kondisi tertentu.

Selain mengikuti terapi yang diberikan dokter, pasien juga perlu memperhatikan perubahan gejala. Menjaga kesehatan gigi dan mulut, menghindari rokok, serta mengendalikan tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jantung.

“Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan katup, gejala, fungsi pompa jantung, dan kondisi pasien. Pada kasus berat, tindakan dapat berupa pelebaran katup dengan balon, perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, maupun TAVI untuk pasien tertentu,” jelas dr. Vera.

Sementara itu, sesak napas yang semakin berat, nyeri dada hebat, kehilangan kesadaran, atau bibir yang tampak kebiruan merupakan tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera.

Pentingnya Deteksi Dini

Pemeriksaan jantung menjadi semakin penting ketika seseorang mengalami keluhan yang berulang, khususnya sesak saat melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan tanpa masalah. Deteksi lebih awal memungkinkan dokter menentukan tingkat gangguan dan pilihan terapi yang sesuai sebelum fungsi jantung semakin menurun.

“Penanganan penyakit katup jantung membutuhkan ketepatan diagnosis, kolaborasi tim multidisiplin, serta kesiapan fasilitas pada setiap tahap perawatan. Melalui Heart & Vascular Center, kami berupaya menghadirkan layanan yang terintegrasi, mulai dari pemeriksaan, penentuan terapi, tindakan intervensi atau bedah, hingga rehabilitasi. Tujuannya bukan hanya menangani kelainan katup, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi jantung dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” tutup dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.

Dengan demikian, sesak ketika naik tangga sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai efek kelelahan biasa. Terlebih jika keluhan disertai nyeri dada, jantung berdebar, mudah lelah, pusing, atau pembengkakan pada tubuh. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan mendeteksi kemungkinan gangguan jantung sejak dini.

ilustrasi gagal jantung.

Mengenal LVAD, Alat Bantu Jantung Terkecil yang Buka Peluang Baru Pengobatan Gagal Jantung

Berdasarkan Global Burden of Disease (GBD) 2019, prevalensi gagal jantung di Indonesia mencapai sekitar 900-1.000 kasus per 100.000 penduduk, tingkat kematian 34,1 persen

img_title
VoxPop.co.id
6 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut