Kurangi Makan Nasi, Bermanfaat Bagi Tubuh Juga Selamatkan Lingkungan
- Pixabay
Namun sayangnya, produksi beras menghasilkan gas rumah kaca yang cukup tinggi. Peningkatan gas rumah kaca yang terlalu tinggi telah menyebabkan perubahan iklim. Apalagi banyak lahan sawah sudah mulai menyusut, menanam padi di lahan-lahan baru yang tidak cocok untuk tanaman padi bisa menciptakan masalah lingkungan dan sosial yang besar. Akhirnya konsumsi nasi kita yang tinggi, turut memperburuk kerusakan alam dan menciptakan masalah sosial.
Komentar Mulia rupanya merujuk pada informasi dalam Our World in Data (Juni 2021). Menurut website tersebut, pada tahun 2020, dunia mengeluarkan sekitar 34.81 miliar ton gas CO2, 589.50 juta ton di antaranya dari Indonesia.
Gas CO2 adalah gas rumah kaca yang paling banyak dihasilkan dari aktivitas manusia. Website tersebut juga merilis hasil penelitian bahwa produksi beras per kilogramnya menghasilkan 4,45 kilogram ton gas rumah kaca. Nilai ini termasuk yang paling besar di antara tumbuhan pangan lainnya. Umbi-umbian dan singkong, yang juga pangan pokok, menghasilkan jauh lebih kecil gas rumah kaca dari pada beras per kilogramnya.
Ilustrasi singkong.
- U-Report
Singkong hanya menghasilkan sekitar 1,32 kilogram gas rumah kaca. Singkong dan umbi-umbian merupakan sumber karbohidrat utama di beberapa bagian Indonesia. Namun faktanya pemerintah akan membuka lahan baru melalui program food estate salah satunya di Kalimantan dan Papua.
Di wilayah Kalimantan Tengah, food estate dibangun pada lahan bekas pengembangan lahan gambut (PLG) yaitu di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas dengan luas 30.000 hektare. Menurut data WALHI, di Papua akan dialokasikan lahan food estate antara lain, sekitar 1,01 juta hektar di Merauke, 400.000 hektare di Mappi, 32.000 hektare di Boven Digoel, dan 4.650 hektare di Yahukimo yang mendapat kritik dari para aktivis lingkungan karena mengancam keragaman hayati dan hak-hak masyarakat adat.
"Lahan pertanian produksi beras terbukti menghasilkan emisi methane (CH4) cukup tinggi, sehingga berkontribusi pada tingginya emisi gas rumah kaca. Selain itu, berdasarkan penelitian, produksi beras dalam skala massal dan intensif juga cenderung menciptakan ketahanan pangan yang rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti serangan hama dan bahkan perubahan iklim,” kata Mulia, yang merujuk pada publikasi terbarunya.
