- ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
20 Tahun berlalu, kasus tersebut tak jua terungkap, hingga ajal akhirnya menjemput Tety, Februari 2018, karena sakit yang diidapnya. Tety menyusul Elang.
Hari-hari Penuh Darah
Juli 1997, krisis ekonomi di Tanah Air semakin kumat. Nilai tukar rupiah mulai melorot menembus Rp17.000 per dolar AS. Ini terus berlangsung hingga bulan-bulan selanjutnya. Pendek kata ekonomi Tanah Air jeblok, krisis melanda.
Pemerintah lalu minta bantuan keuangan dari International Monetary Fund (IMF), US$10 miliar akhirnya dikucurkan. Namun semua tak berjalan mulus, rupiah runtuh setelah paket IMF tak menunjukkan hasil memuaskan untuk mengatasi krisis.
Enam bulan berikut, situasi Tanah Air memanas, menyusul makin membumbungnya harga-harga barang kebutuhan pokok. Demonstrasi meluas dan polisi mengambil langkah tegas. Lima orang tewas dalam demo sepanjang Januari-Februari 1998.
Di tengah kegentingan dan tak adanya tanda-tanda krisis berakhir, Soeharto justru menunjukkan ketamakan. Dia masih ingin dicalonkan jadi pemimpin negeri di Sidang Umum MPR, Maret 1998. Rakyat pun makin marah, beringsang.
Soeharto tak kehilangan akal. Banyak aktivis lantang lalu disikatnya. Kasus ini dikenal dengan sebutan penculikan paksa. Hingga pada 10 Maret 1998, Soeharto kembali terpilih jadi presiden.
Ribuan mahasiswa terus melawan di kampus-kampus. Mereka menuding Soeharto penyebab kekacauan. Aksi bahkan meluas hingga ke kampus-kampus elite, di antaranya Trisakti yang dikenal berisi mahasiswa tajir, di mana Elang turut beraksi menyuarakan tuntutan reformasi.
Data Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) menyebut, sepanjang Februari hingga April 1998, puluhan aktivis mahasiswa hilang satu per satu. Sebagian dari mereka kembali, sebagian yang lain tak ditemukan hingga hari ini, alias hilang.
Sembilan korban penculikan yang berhasil kembali adalah Aan Rusdiyanto, Andi Arief, Desmond Junaedi Mahesa, Faisol Reza, Haryanto Taslam, Mugiyanto, Nezar Patria, Pius Lustrilanang, dan Rahaja Waluya Jati.
Sementara 13 korban yang masih hilang hingga kini adalah Dedy Umar Hamdun, Herman Hendrawan, Hendra Hambali, Ismail, M Yusuf, Nova Al Katiri, Petrus Bima Anugrah, Sony, Suyat, Ucok Munandar Siahaan, Yani Afri Yadin Muhidin, dan Wiji Thukul.
