- ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
![]()
Koordinator Kontras, Yati Andriyani saat diwawancara di Jakarta. (VoxPop/Raudhatul Zannah)
"Kami mencatat banyak kasus yang terjadi pada 1998, di antaranya Trisakti, Semanggi I, Semanggi II, penculikan dan penghilangan paksa, hingga kasus Tragedi Mei 98," kata Koordinator Kontras, Yati Andriyani, kepada VoxPop.
Sementara jika membuka data Tim Gabungan Pencari Fakta, Kerusuhan Mei 1998 membuat banyak sekali jatuh korban. Pada Bab IV disebutkan secara jelas jumlah korban meninggal dan luka pada 1998 punya angka fantastis. "Data tim relawan 1.190 orang meninggal akibat ter/dibakar, 27 orang meninggal akibat senjata/dan lainnya, dan 91 lainnya alami luka-luka," tulis laporan itu.
Data yang dirilis TGPF berbeda dengan polisi. Polda Metro menyebut, korban meninggal sebanyak 451 orang dan korban luka-luka tidak tercatat. Data Kodam juga berbeda, yakni 463 meninggal termasuk aparat keamanan, 69 orang luka-luka.
Teguh Cari Keadilan
"Kalau bicara anak saya, saya tahu persis apa yang dilakukan Wawan. Hampir setiap malam kita selalu makan malam bersama. Setelah makan malam bersama, kami biasa bercerita tentang aktivitas di luar rumah, termasuk saya mengetahui tentang enam agenda reformasi, itu ya dari Wawan," ujar Sumarsih saat berbincang dengan VoxPop.
20 Tahun berlalu. Semangat Sumarsih bersama beberapa orangtua korban tumbal reformasi mencari keadilan masih tetap sama, belum padam. Berbagai upaya hingga kini terus dilakukan. Termasuk menagih janji pemerintah berkuasa Presiden Joko Widodo untuk menuntaskan kasus tragedi berdarah Mei 1998.
Di satu sisi kondisi keluarga korban sudah semakin tua, berguguran satu per satu. Tiap bulan, ada saja yang berkurang dari mereka karena kuasa Tuhan. "Keluarga korban masih akan tetap menagih janji walaupun kami sudah banyak yang putus asa, banyak yang lelah, bahkan sudah banyak yang meninggal,” kata Sumarsih.
![]()
Sumarsih, ibu dari mahasiswa Universitas Atma Jaya Bernardus Realino Norma Wirawan saat menghadiri aksi Kamisan di Jakarta. (VoxPop/Fernando Randy)
Sumarsih merupakan orangtua Bernardinus Realino Norma Irmawan alias Wawan, korban Semanggi I. Kata dia, kondisi keluarga korban sepertinya sama dengan apa yang dikehendaki negara. Negara seakan sudah membaca keluarga korban, mereka mengulur-ulur penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat supaya keluarga korban tidak menuntut lagi.
