- VoxPop
Menambang Uang Digital
Karena itu, Google memutuskan untuk menutup jejaring sosial yang diluncurkan pada 28 Juni 2011 tersebut empat bulan lebih awal menjadi April dari rencana sebelumnya pada Agustus 2019.
Google mengaku bug baru ini ditemukan pada awal November 2018. Dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, tepatnya 7 hingga 13 November, mereka mengklaim telah memperbaiki dan menutup celah tersebut. Akses kepada application programming interface atau API akan ditutup pada 90 hari ke depan.
Namun, hal berbeda terjadi pada media sosial Telegram. Peretas tidak mencuri data pribadi pengguna seperti yang dialami Facebook, Google Plus, maupun Quora.
Akan tetapi, mereka mengeksploitasi kerentanan pada aplikasi desktop Telegram untuk menambang mata uang kripto atau digital (cryptocurrency) seperti Monero dan ZCash.
Hal ini sudah dilakukan secara aktif sejak Maret 2017. Malware Analyst and Targeted Attacks Research Kaspersky Lab, Alexey Firsh mengatakan, pihaknya menemukan serangan ‘in the wild' yang dilakukan oleh malware baru dengan menggunakan kerentanan zero-day di Telegram.
"Pengguna diminta agar mengunduh (download) perangkat lunak di komputernya (desktop), yang sebenarnya mereka ditipu karena software ini berbahaya. Setelah selesai download, hacker bisa bebas menambang kripto karena mengendalikan desktop secara otomatis dari jauh," kata Firsh, dalam keterangannya, pertengahan Februari 2018.
Tak hanya itu, ia juga menemukan arsip berisi tembolok (cache) data Telegram yang telah dicuri dari pengguna. Telegram diciptakan oleh Pavel Durov pada 2013. Aplikasi ini diklaim sebagai alat komunikasi yang sangat aman, di mana lalu lintas percakapan dienkripsi dan sulit diretas.
"Popularitas Telegram justru menjadi sasaran empuk para penjahat siber. Kami telah menemukan beberapa skenario eksploitasi zero-day ini. Selain malware dan spyware - yang umumnya dipakai untuk menambang - serangan siber semacam juga ini telah menjadi tren global yang telah kita lihat sepanjang tahun lalu," ungkap Firsh.
Perang Tarif Ojol
Kedua, perang tarif Gojek dan Grab. Perang ini bermula dari pernyataan Vice President Corporate Communication Gojek, Michael Say, pada Agustus lalu, yang mengatakan bahwa tarif Gojek saat ini merupakan yang tertinggi di pasar.
