SOROT 435

Jurus Menag Menangkal Provokasi

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengikuti rapat kerja dengan komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 30 Januari 2017.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

VoxPop.co.id – Kening Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, terlihat berkerut. Wajahnya juga terlihat memerah saat ditanya soal pendataan kiai dan wacana sertifikasi ulama. Beberapa kali pria ini mengayunkan tangan untuk menjelaskan dan menegaskan perihal dua isu yang tengah ramai dibicarakan tersebut. 

img_title Resmi! Pemerintah Tetapkan Idul Adha 2026 Jatuh pada 27 Mei

“Jadi, tidak ada keinginan pemerintah untuk sertifikasi ulama. Kata sertifikasi itu tidak pernah muncul dari pemerintah,” ujar Lukman saat ditemui di lobi Gedung Kementerian Agama, Jakarta, Selasa, 7 Februari 2017.

Menag menjelaskan, wacana ‘sertifikasi ulama’ muncul karena ada sejumlah kalangan yang merasa resah dan risau dengan khotbah-khotbah Jumat berisi hal-hal ajakan yang provokatif. Ia mengatakan, esensi khotbah Jumat yang seharusnya berisi ajakan untuk bertakwa ternyata diisi dengan hal-hal yang sifatnya memecah belah, karena menjelek-jelekkan. Bahkan, menyebut nama orang-orang tertentu, sehingga meminta pemerintah menyikapi hal itu.

img_title Kemenag Prediksi Idul Adha 2026 Jatuh pada 27 Mei, Hilal Zulhijah Sudah Penuhi Syarat

“Tentu sebagai Kementerian Agama saya tidak boleh diam terhadap hal seperti ini,” dia menambahkan.

Guna menyikapi kondisi tersebut, Kemenag mengundang Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas-ormas Islam. Tak hanya itu, Kemenag mengundang organisasi-organisasi profesi seperti para dai, dan akademisi untuk duduk bersama.

img_title Kemenag Ungkap Posisi Hilal Sudah Penuhi Syarat, 1 Zulhijah Jatuh pada 18 Mei 2026

“Kemudian, muncul wacana tentang standardisasi. Jadi, standardisasi, bukan sertifikasi, yaitu ingin memberikan batasan minimal kompetensi dan kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang khatib dalam menyampaikan khotbah Jumat,” tuturnya.

Memicu Reaksi

Wacana ini sontak memicu pro dan kontra di masyarakat. Harris Sofyan Hardwin (24) misalnya. Warga Depok, Jawa Barat, ini, mengaku tak setuju dengan rencana sertifikasi ulama tersebut. Ulama bukan sebuah profesi yang harus disertifikasi.

Sorot - Cerita Salat Idul Adha dari Berbagai Negara

Jemaah Sunni mendatangi Masjid Sunni pada perayaan hari pertama Idul Adha di Baghdad, Iraq, 12 September 2016. (REUTERS/Khalid al Mousily)

“Menyertifikasi ulama lebih membuat diskriminasi, di mana nantinya akan ada ulama yang bersertifikat dan tidak. Selain itu, akan timbul masalah terhadap ulama yang tidak bersertifikat karena bisa dianggap ulama abal-abal,” ujarnya kepada VoxPop.co.id, Rabu, 8 Februari 2017.

Dia mengatakan, tidak semua khotbah Jumat isinya cacian, celaan atau menyalahkan. Menurut Harris, hal itu terjadi karena tensi politik di Indonesia sedang memanas. Seharusnya, pemerintah berperan aktif dalam menciptakan kondisi politik yang damai tanpa menyudutkan atau mendiskreditkan kelompok agama atau aliran kepercayaan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut