Surga Suaka Badak
- U-Report
A. Keadaan Habitat sebagai Surga Badak di Indonesia
Saat ini baiti jannati, rumahku surgaku. Rumah adalah tempat untuk tinggal dan bernaung terlindungi dari pengaruh lingkungan luar yang terkadang kejam. Tempat beranak pinak, bercengkrama membicarakan masa depan. Makhluk hidup memerlukan tempat yang aman untuk dirinya dan keluarganya, tak terkecuali badak-badak yang ada di Indonesia.
Badak memerlukan rumah untuk merasa aman. Karena sifatnya yang pemalu dan penyendiri, manusia akan sangat sulit untuk menjumpainya. Pola hidup mereka soliter yang hidup dalam kelompok keluarga kecil dalam suatu habitat. Pulau Sumatera menjadi salah satu rumah bagi salah satu jenis spesies Badak-badak Sumatera.
Habitat badak mencakup hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan, meskipun umumnya badak sangat menyukai hutan dengan vegetasi yang sangat lebat. Badak senang menjelajah dan menemukan makanan yang tumbuh di hutan misalnya saja buah, daun-daunan, ranting-ranting kecil dan kulit kayu.
Khususnya di hutan-hutan sekunder di mana banyak terdapat sumber makanan yang tumbuh rendah. Penyebaran habitat badak di Pulau Sumatera terdapat dalam kawasan hutan TN Gunung Leuser (Provinsi NAD), TN Kerinci Seblat (Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan), TN Bukit Barisan Selatan (Provinsi Bengkulu) dan TN Way Kambas (Provinsi Lampung).
Berbeda halnya dengan spesies Badak Sumatera, kerabat badak dari spesies Badak Jawa memiliki habitat terpusat di TNUK yang berada di Provinsi Banten. TNUK ditetapkan menjadi wilayah konservasi oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 26 Februari 1992 yang memiliki nilai konservasi nasional perwakilan hutan hujan tropis dataran rendah Pulau Jawa.
Kawasan ini juga sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi penting oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resouces) pada tanggal 1 Februari 1992 yang dideklarasikan oleh UNESCO sebagai Natural World Heritage Site.
TNUK merupakan habitat terakhir Badak Jawa. Salah satu pemerhati kelangsungan hidup badak adalah Dr. Arnold Sitompul, Direktur Konservasi WWF Indonesia. Ia menerangkan bahwa saat ini perlu dicarikan rumah baru bagi Badak-badak Jawa, selain di TNUK.
