Surga Suaka Badak
- U-Report
c. Zona pemanfaatan intensif yang merupakan zona yang diupayakan dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar. Zona ini terletak pada lokasi strategis yang mendukung pengembangan bagi pemanfaatan fasilitas pengelolaan.
d. Zona pemanfaatan tradisional merupakan kawasan yang oleh penduduk setempat telah lama dimanfaatkan warga setempat untuk mengambil SDA demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan non-komersil.
e. Zona rehabilitasi merupakan kawasan yang memiliki nilai konservasi penting, namun mengalami kerusakan akibat ulah manusia atau bencana alam. f. Zona penyangga merupakan wilayah berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional. g. Zona lainnya yang diperuntukkan untuk fungsi lainnya sesuai kebutuhan.
2. Kesesuaian Habitat Komponen. Kesesuaian habitat Badak Jawa demi menjaga biodiversitas (keanekaragaman hayati) dari jenis spesies badak ditentukan oleh parameter-parameter (Hommel, 1987) seperti: a. Aksesibilitas dibuat berdasarkan kriteria mudah didatangi apabila mempunyai ketinggian 0-100 dpl, kriteria sulit didatangi apabila memiliki ketinggian antara 100-500 meter dpl dan kriteria sangat sulit apabila memiliki ketinggian lebih dari 500 meter dpl.
b. Ketersediaan tumbuhan pakan berupa daun muda yang diperoleh dari tumbuhan dengan vegetasi semak belukar c. Ketersediaan air yang ditentukan oleh adanya kriteria jumlah sumber air pada setiap luasan 25 km persegi.
3. Melakukan Pendataan Jumlah Badak secara Periodik. Metode camera trapping yang dilakukan oleh Griffith pada tahun1993 di TNUK. WWF dan mitra kerjanya membantu petugas Balai Taman Nasional memonitor badak melalui kamera trap dan analisis DNA dari sampel kotoran. Sejak pertama kali dimulai pada 2001.
Sejak Februari 2011, pengelolaan kamera dan video jebak secara penuh dilakukan oleh Balai Taman Nasional, sementara WWF memfokuskan kegiatanya pada observasi perilaku, pola makan, serta penelitian mengenai resiko dan ancaman wabah penyakit.
Observasi terhadap pola prilaku badak dapat memberikan informasi mengenai interaksi badak dengan lingkungan sekitarnya, data-data fisiologis (misalnya tingkat respirasi) yang mengindikasikan tingkat stress dan kondisi tiap individu badak. Saat ini WWF bekerja dengan Departemen Kehutanan, Balai Taman Nasional dan masyarakat lokal untuk mengkaji kemungkinan pembuatan habitat kedua dan translokasi badak yang telah diseleksi terlebih dahulu berdasarkan kondisi kesehatan dan fertilitas-nya.
