Restorasi Lahan Indonesia, Pentingkah?
- vstory
Mengapa restorasi penting? Karena lahan adalah fondasi dari hampir semua aspek kehidupan. Dari tanah lahir padi, jagung, kedelai, kopi, sawit, hingga rempah-rempah yang menopang ekonomi kita. Dari tanah pula lahir air yang disimpan oleh gambut dan hutan, lalu dialirkan ke sungai-sungai besar. Dari tanah juga kita membangun kota dan infrastruktur yang menopang peradaban. Tanpa tanah yang sehat, tidak ada ketahanan pangan, tidak ada air bersih, dan tidak ada masa depan.
Namun restorasi lahan bukan sekadar urusan teknis menanam pohon atau membuat embung. Restorasi adalah proses panjang yang memerlukan strategi, konsistensi, dan kemauan politik yang kuat. Sayangnya, di Indonesia, proyek-proyek restorasi kerap terjebak dalam logika proyek jangka pendek. Ada lahan bekas tambang direklamasi hanya sebatas formalitas administratif, ditanami bibit seadanya, lalu dibiarkan mati tanpa perawatan. Ada pula proyek penghijauan yang lebih banyak berfungsi sebagai pencitraan ketimbang benar-benar memulihkan ekosistem.
Bandingkan dengan apa yang dilakukan di beberapa belahan dunia. Di Australia, para petani mulai mengadopsi praktik pertanian regeneratif untuk memulihkan kesuburan tanah yang kian rapuh akibat perubahan iklim. Di Afrika, inisiatif Peace Forest bahkan menggabungkan restorasi dengan upaya merajut perdamaian lintas batas. Sedangkan di Eropa, meski masih fragmentaris, setidaknya ada keseriusan untuk membangun observatorium kekeringan agar respons kebijakan lebih terukur. Indonesia tidak bisa terus-menerus menutup mata dengan dalih kondisi berbeda. Justru karena berbeda, kita punya tanggung jawab lebih besar untuk berinovasi sesuai konteks lokal.
Contoh inspiratif sebenarnya ada di negeri ini. Di Jawa Tengah, beberapa desa berhasil menghidupkan kembali lahan kritis dengan sistem agroforestri yang memadukan tanaman keras dengan palawija. Warga tidak hanya mendapatkan kembali kesuburan tanah, tetapi juga tambahan penghasilan dari hasil hutan bukan kayu. Di Kalimantan Barat, upaya restorasi gambut melalui sekat kanal mulai menunjukkan hasil positif, membuat lahan yang semula rawan terbakar kembali basah dan produktif untuk tanaman lokal. Di Lombok, lahan kering berhasil dipulihkan dengan pendekatan sumur resapan dan teknologi sederhana yang berbasis kearifan lokal. Kisah-kisah kecil ini membuktikan bahwa restorasi bukan utopia. Restorasi bisa dilakukan, asalkan ada kemauan dan keberlanjutan.
