Adu Kuat Narasi 'Sepuluh Hari' AS Vs Iran
- ANTARA/X
Artinya, dalam kacamata realisme, sejatinya kita sedang menyaksikan menifestasi dari diplomasi koersif (coercive diplomacy) yang dilakukan melalui perang narasi canggih. AS sedang mengonstruksi dirinya sebagai “penjaga ketertiban dunia”, sebaliknya Iran membangun identitas dirinya sebagai “simbol perlawanan” terhadap imperialiasme Barat. Inilah realitasnya, Negara adalah aktor rasional yang mengejar kekuasaan dan keamanan. Narasi sepuluh hari yang didengungkan oleh AS adalah upaya Negara menciptakan “daya gentar” terhadap Iran –jika tidak patuh, maka biaya yang didapatkan sangat mahal.
Pertunjukkan narasi ini sangat menarik perhatian dan meningkatkan kewaspadaan internasional. Jika “diplomasi tekanan” AS melalui ultimatum ini gagal, maka akan terjadi konflik terbuka yang lebih besar –merujuk pada saling serang antara AS-Israel dan Iran tahun 2025, yang berdampak pada struktur geopolitik dan ekonomi global.
Perang narasi ini tidak lagi perdebatan di meja Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau televisi, melainkan terpolarisasi melalui media sosial. Video-video latihan militer Garda Revolusi Iran IRGC di selat Hormus disandingkan dengan rekaman B-2 Bomber AS yang disebarkan secara massif menambah panasnya suhu konflik. Tujuannya adalah masing masing saling menjatuhkan mental sebelum peluru pertama ditembakkan. AS berharap rakyat Iran Panik secara ekonomi dan menekan pemerintah, sementara Iran berharap komunitas global mengecam AS sebagai Negara adidaya yang memicu perang duni III.
Siapa Pemenangnya?
Menurut Wendt, siapa pemenang dalam adu kuat narasi tersebut tidak dijawab dengan siapa yang mempunyai kekuatan militer dan hulu ledak tinggi. Pemenang dalam peperangan ini adalah mereka yang secara sempurna membangun konstruksi realitas sosial dan identitas yang diakui oleh komunitas internasional.
Secara defensif, jika Iran mampu mempertahankan identitasnya di bawah tekanan tanpa menjadi “paria” –dikucilkan total, ialah pemenangnya. Artinya, komunitas global secara masif akan melakukan konsolidasi dukungan terhadap Iran, dan melakukan tekanan pada AS untuk menyelesaikan peperangan dengan cara apapun –Iran memenangkan persepsi sebagai Negara yang tidak bisa didikte.
Namun secara hegemonik, jika Negara-negara –Uni Eropa atau Negara Arab, ikut menekan Iran dalam jendela waktu sepuluh hari tersebut, maka AS memenangkan narasinya sebagai “polisi dunia” –dunia menerima “aturan main” yang dibuat oleh Negara adidaya tersebut. Keberhasilannya memaksa seluruh komunitas internasional dalam membicarakan isu ini dalam waktu yang ia tentukan.
